Selasa, November 13, 2018

Fakta Unik Di Balik Tradisi Bakar Tongkang di Bagan Siapi Api Riau



POTRET PERTANIAN - Fakta Unik Di Balik Tradisi Bakar Tongkang di Bagan Siapi Api Riau

Minggu, November 11, 2018

Hindari Hal Ini Jika Tidak Ingin Celaka Di jalan Raya



POTRET PERTANIAN - Hindari Hal Ini Jika Tidak Ingin Celaka Di jalan Raya

Vidio Ucapan Ulang Tahun Utuk Istriku Tersayang



POTRET PERTANIAN - Vidio Ucapan Ulang Tahun Utuk Istriku Tersayang

Exclusif Program Prorakyat (Agribisnis Hortikultura)



POTRET PERTANIAN - Exclusif Program Prorakyat (Agribisnis Hortikultura)

Jumat, November 09, 2018

Loding Blog Anda Lemot !, Berikut Cara Mempercepat Loading Blog

POTRET PERTANIAN - Cara Mempercepat Loading Blog , Hallo sahabat potret pertanian dimanapun berada, kali ini saya akan membahas bagaimana mempercepat loding blog, awalnya kejadian ini juga menimpa blog saya yang lodingnya super lelet, sehingga membuat saya berputar otak untuk membuat blog saya lodingnya menjadi lebih cepat, karena hal tersebut membuat pengunjung blog tentunya tidak nyaman untuk menunggu loding website atau blog yang lama yang ahirnya membuat pengunjung blog saya menurun.

Loding Blog Anda Lemot !, Berikut Cara Mempercepat Loading Blog , Artikel kali ini memang lain dari pada yang lain dalam pembahasan-pembahasan sebelummnya, tapi tidak apa-apa, sesekali dan ini juga ilmu yang mudah-mudahan bermanfaat buat kita semua, aamiin, Pada artikel ini saya akan membahas mengenai bagaimana cara mempercepat loading blog. Bagian awal saya akan menjelaskan mengenai alasan-alasan mengapa halaman web harus cepat diakses. Di bagian selanjutnya saya akan membahas cara cek kecepatan loading blog.

Petani Muda dari Pinggiran Bandara Soetta

POTRET PERTANIAN - Petani Muda dari Pinggiran Bandara Soetta, Bagas Suratman, sang petani muda yang mengelola lahan pertanian perkotaan seluas 26 ha di Kampung Rawa Lini, Teluk Naga, Tangerang, Banten. Lahan yang letaknya 2 kilometer dengan Bandara Soekarno Hatta (Soetta) ini ditanami dengan 30 jenis komoditas sayuran dan melon.

Bagas mengungkapkan dirinya mulai bertani sejak 2004, di mana sebelumnya bekerja sebagai supir angkutan umum tidak tetap bahkan dikenal preman. 

Awalnya, terjun menjadi petani hanya coba-coba tetap lambat laun usahanya menanam sayuran menghasilkan pendapatan yang cukup besar.

“Sekarang pendapatan per harinya mencapai Rp 100 juta. Pendapatan ini diperoleh dari empat supermarket seperti superindo, Alfamidi, Carrefour sebagai mitra usahanya. Sayuran juga dipasok ke berbagai pasat tradisional di Jabodetabek,” ungkapnya.
Sayuran yang dibudidayakan di antaranya terdapat daun pepaya, singkong, kangkung, bayam, caisim, katuk. Lahan tersebut milik perusahaan kemudian disewa Rp 10 juta per tahun.
"Di sini kami bermitra dengan 40 orang petani yang mengolah lahan 26 hektare. Kami panen setiap harinya untuk menyuplai empat supermarket,” jelas Bagas.
Untuk melon misalnya, dijual dengan harga Rp 10 ribu per kg sedangkan biaya produksi Rp 150 juta per hektare. Hasil produksi bisa mencapai 25 ton per hektare.
"Minimal keuntungan Rp 50 juta sampai Rp 100 juta per hektare per musim. Masa tanam selama 70 hari,” tambahnya.
Sedangkan harga sayuran per ikat cukup kompetitif. Misalnya untuk caisim Rp 2.200 per ikat, kenikir Rp 2.500 per ikta, daun singkong Rp 1.500 per ikta, daun pepaya Rp 2.500 per ikat, daun bayam Rp 2.200, daun katuk Rp 3.000 per ikat.

"Untuk memenuhi pasokan, saya satu tahun libur hanya sehari, pas malam takbiran,” sebut Bagas.
Bagas menuturkan awal usaha budidaya miliknya adalah melalui otodidak. Ia bergabung dengan komunitas petani lain di nusantara untuk mempelajari hal-hal seputar budidaya. 

"Saya positive thinking di pertanian ini. Berawal dari kecil tapi bertahan. Sekarang meningkat lebih eksklusif di melon. Cabai dan aneka sayur lainnya sudah dicoba," terangnya.
Bantu Masyarakat

Bagas merasakan betul dampak bertani. Sejak bertani, kehidupan ekonominya kian meningkat. Bahkan 7 orang teman supirnya kini sudah mampu memiliki mobil sendiri.
Lebih lanjut Bagas jelaskan, setiap harinya mempekerjakan 15 orang dan kalau bulan puasa mencapai 30 orang.

Prinsipnya yaitu menggerakkan lapisan masyarakat lain, sehingga pegawai dari lingkungan setempat.

“Ini sebagai solusi pekerjaan. Ibu - ibu yang ngiketin sayur, yang laki - laki bisa packing house," jelasnya.
Bagas berharap agar semakin banyak dicetak petani muda. Anak muda harus bergerak untuk berkarya membangun pertanian yang lebih maju. 

“Kalau pemuda sudah bertanam maka pasokan pangan akan aman. Kami berharap pemerintah juga turut membantu,” tutupnya.
Melihat kesuksesan Bagas, Direktur Jenderal Hortikultuta Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi meninjau langsung ke lahannya. 

Saat melihat lahan pertanian tersebut, Suwandi memuji usaha petani muda dalam memanfaatkan lahan yang semulanya lahan tidur yaitu ditumbuhi semak belukar menjadi lahan pertanian produktif.

Sehingga, semangat seperti perlu didorong agar para pemuda tani di daerah lainnya pun bisa bangkit untuk menjadi petani sukses.

"Ini luar biasa. Ada pemuda yang berhasil bertani dengan sistem modern di lahan perkotaan. Ada 30 jenis sayuran plus melon. Hasil panenya dijual di berbagai pasar tradsional Jabodetabek dan pasar ritel. Bahkan melon rencananya mau diekspor. Pasarnya sudah ada, ke Hongkong. Ini perlu ditularkan ke pemuda lain,” ucap Suwandi.

APIKLUHTAN Tingkatkan Penyajian Data dan Informasi Indikator Kinerja Penyuluh Pertanian Tepat Waktu

POTRET PERTANIAN - Pusat Penyuluhan Pertanian membuat terobosan dengan membuat aplikasi  berbasis android   untuk membantu memudahkan penyuluh pertanian memberikan  pelaporan Indikator Kinerja Penyuluh Pertanian (IKPP) harian. Aplikasi tersebut dinamakan  Aplikasi Pelaporan Indikator Kinerja Penyuluh Pertanian (APIKLUHTAN) Real Time.

Dengan aplikasi tersebut diharapkan akan meningkatkan  kinerja  44.045 orang Penyuluh Pertanian serta akan meningkatkan Kapasitas Kelembagaan Penyuluhan Pertanian sebanyak kurang lebih 5.600 BPP yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian telah melakukan ujicoba aplikasi tersebut di wilayah Jawa Barat yang meliputi: BPP Palimanan, Kabupaten Cirebon peserta sebanyak 20 orang, sedangkan di BPP Gantar dan BPP Haurgelis Kabupaten Indramayu juga sebanyak 15 orang yang terdiri dari penyuluh pertanian PNS dan THL-TB Penyuluh Pertanian di saksikan oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon serta Kepala Bidang Penyuluhan Pertanian yang mewakili Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu.

Pelaporan kinerja yang selama ini masih belum maksimal mengakibatkan penyajian data dan informasi belum tepat waktu, dan masih sulitnya memperoleh data-data potensi wilayah kerja penyuluh pertanian. APIKLUHTAN akan menjawab semua itu dan penyuluh pertanian mampu melaporkan harian kinerja meliputi peningkatan produksi dan produktivitas pertanian tidak terlepas dari peran para penyuluh pertanian melalui gerakan pendampingan dan pengawalan peningkatan/percepatan LTT, optimalisasi pemanfaatan alsintan, Percepatan Pengolahan Lahan dan Pertanaman Padi Jagung, Kedelai dan komoditas unggulan lainnya, penyerapan gabah petani dan keterlibatan dalam penyebaran informasi pertanian melalui media sosial (medsos).

IKPP bagi para penyuluh pertanian merupakan kewajiban yang harus di laporkan setiap hari, dalam melaksanakan tugas pendampingan kepada pelaku utama dan pelaku usaha dalam mengembangkan usaha agribisnisnya, berjalan efektif dan efisien, sehingga produksi meningkat dengan memberikan nilai tambah kepada petani.

Uji coba Apikluhtan disambut dengan positif oleh penyuluh. Para penyuluh menyadari bahwa dengan perkembangan zaman saat ini, mereka harus siap dan peka bahwa melalui aplikasi berbasis informasi teknologi maka pelaporan kinerja dituntut cepat, akurat, terukur dan update.

Pemerintah meluncurkan mie nusantara. Mie berbahan baku pangan lokal

POTRET PERTANIAN - Pemerintah meluncurkan mie nusantara. Mie berbahan baku pangan lokal, Peluncuran dilakukan Kepala Badan Litbang Pertanian, M. Syakir usai membuka Pangan Lokal Fiesta di Bogor, Rabu (10/11). Dalam kesempatan itu juga hadir Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Michael Wattimen, mantan Menteri Pertanian, Justika Baharsjah, Kepala Badan Ketahanan Pangan, Agung Hendriadi serta pemda penghasil pangan lokal.

Peluncuran mie nusantara tersebut juga diramaikan dengan mengonsumsi mie nusantara bersama 1000 anak sekolah. Mie nusantara yang terbuat dari sagu, hanjeli, sorghum, jagung, dan ubi kayu disajikan menjadi hidangan favorit semua masyarakat yaitu bakso.

M. Syakir mengatakan, Badan Litbang Pertanian telah menyiapkan teknologi pengolahan pangan lokal. Karena itu pihaknya mengundang kalangan industri untuk bekerjasama mengembangan industri produk pangan berbahan baku lokal.

“Ini memperlihatkan bahwa kita siap dengan teknologi. Membuktikan juga Indonesia bisa membuat mie nono terigu. Saat ini pemerintah memang bukan lagi sebatas promosi tapi harus langsung berbuat,” katanya.

Menurutnya, ketergantungan masyarakat terhadap terigu saat ini semakin meningkat dari tahun ke tahun.  Terlihat dari kenaikan konsumsi terigu nasional dari 15,5 kg/kapita/tahun pada tahun 2008 menjadi 25 kg/kapita/tahun pada tahun 2018. Artinya, meningkat 1 kg/kapita/tahun. 

Hal ini tentunya membuat beban devisa negara semakin meningkat. Apalagi, bahan baku terigu yaitu merupakan produk impor. Sementara di sisi lain, Indonesia sebagai negara terbesar ke dua di dunia dalam keragaman hayati memiliki berbagai sumber daya lokal yang bisa dikembangkan sebagai pangan pokok.  “Karena itu daerah yang selama ini pernah mengonsumsi pangan lokal akan kita bangkitkan kembali,” ujarnya.

Sementara itu Agung Hendriadi mengakui, selama ini yang dilakukan sebatas kampanye diversifikasi pangan lokal. Karena itu saat ini sudah seharusnya mulai berbuat. Apalagi industri pangan di Indonesia sangat besar, bahkan sekitar 6,5 persen kontribusinya ke PDB. “Ironisnya industri pangan tersebut menggunakan bahan baku impor,” ujarnya.

Agung mencontohkan, Pemerintah Vietnam telah mampu mendorong industri dalam negeri mereka menggunakan bahan baku lokal. Dengan potensi sumberdaya alam pangan lokal, Agung optimis mampu melakukan hal yang sama. “Paling tidak 10% penggunaan bahan baku pangan impor bisa tergantikan dengan pangan lokal,” tegasnya. *

PPMKP menyelenggarakan Bimbingan Teknis dan Ujian Sertifikasi Keahlian Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ)

POTRET PERTANIAN - PPMKP menyelenggarakan Bimbingan Teknis dan Ujian Sertifikasi Keahlian Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ), Biro Umum dan Pengadaan selaku pembina pengadaan barang/jasa lingkup Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) menyelenggarakan Bimbingan Teknis dan Ujian Sertifikasi Keahlian Pengadaan Barang/Jasa (PBJ) Tingkat Dasar pada tanggal 5 – 9 November 2018 di PPMKP Ciawi, Jawa Barat.

Bimbingan Teknis ini diawali dengan pembukaan oleh Plt. Kepala Biro Umum dan Pengadaan dan menghadirkan 14 orang fasilitator yang merupakan pejabat LKPP dan personil TOT LKPP dari Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah dengan jumlah peserta sekitar 120 orang dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) vertikal lingkup Kementerian Pertanian dan juga Dinas Pertanian Maluku Utara. Pada bimtek kali ini, Kementerian Pertanian mendapat kehormatan , 2 orang Direktur LKPP ikut mengajar dalam bimtek, yakni Bapak Emin Adhi Muhaemin (Direktur Pengembangan Sistem Katalog) dan Bapak Tatang Rustandar Wiraatmadja (Direktur Pengembangan Profesi dan Kelembagaan).

Bimbingan teknis ini diselenggarakan dalam rangka menjalankan amanat Perpres Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, yakni paling lambat tanggal 31 Desember 2020, Pokja dan Pejabat Pengadaan wajib dijabat oleh fungsional Pengelola Pengadaan Barang/Jasa (PPBJ). Selain itu, PPK/Pokja/Pejabat Pengadaan wajib memiliki sertifikat kompetensi paling lambat pada tanggal 31 Desember 2023. Sehingga, kepemilikan sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa tingkat dasar merupakan persyaratan utama sebelum menjadi fungsional PPBJ dan sebelum mengikuti uji kompetensi untuk memiliki sertifikat kompetensi.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Syukur Iwantoro memberikan pengarahan sekaligus motivasi kepada para peserta bimtek yang akan mengikuti ujian sertifikasi. “Dengan ketersediaan barang/jasa dalam mewujudkan peningkatan pembangunan pertanian, maka diharapkan dapat melaksanakan tugas yang efektif dan efisien, peningkatan pelayanan publik, pengembangan perekonomian nasional dan daerah, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat” ujar Syukur.

“Diperlukan SDM yang mempunyai pemahaman atau kompetensi tentang proses pengadaan barang/jasa pemerintah sebagaimana telah ditetapkan dalam Perpres Nomor 16 Tahun 2018.” Lanjut Syukur.

Dengan diselenggarakannya Bimtek dan Ujian Sertifikasi Keahlian PBJ Tingkat Dasar ini, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan SDM PBJ pada Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Pertanian secara ideal. Sehingga, pelaksanaan pengadaan barang/jasa dapat tepat waktu dan sesuai dengan ketentuan dan aturan yang berlaku. 

Indonesia dengan menjadi tuan rumah dan memimpin pertemuan Pencegahan dan Pengendalian Zoonosis

POTRET PERTANIAN -  Indonesia dengan menjadi tuan rumah dan memimpin pertemuan Pencegahan dan Pengendalian Zoonosis , Pemerintah Indonesia menegaskan komitmen untuk mencegah dan menanggulangi penyebaran penyakit zoonosis (penyakit hewan yang menular terhadap manusia) secara global. Hal tersebut dibuktikan oleh Indonesia dengan menjadi tuan rumah dan memimpin pertemuan Pencegahan dan Pengendalian Zoonosis yang merupakan salah satu rangkaian acara Global Health Security Agenda (GHSA) Ministerial Meeting yang diselenggarakan pada tanggal 5-8 November di Nusa Dua, Bali. 

Sebanyak 15 negara yang tergabung dalam Zoonotic Diseases Action Package (ZDAP) hadir membahas pencapaian dan rencana aksi implementasi 2014-2019. Rencana aksi implementasi ini menjadi salah satu hal penting yang dicapai oleh kepemimpinan Indonesia dalam forum internasional pengendalian penyakit zoonosis. Dalam rencana aksi tersebut beberapa hal penting disetujui bersama, termasuk dukungan masing-masing negara anggota ZDAP untuk melanjutkan penanganan penyakit zoonosis, pertukaran informasi, peningkatan kapasitas, serta komitmen jangka panjang penanganan tanggap darurat zoonosis. 

Pada pertemuan tersebut, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK, Sigit Priohutomo mengatakan, sudah banyak upaya yang telah dilakukan Indonesia untuk meningkatkan kapasitas sumber daya di bidang kesehatan terpadu dalam menanggulangi ancaman kesehatan global, khususnya zoonosis. Salah satunya dengan menginisiasi kerjasama lintas sektor. “Tiga kunci keberhasilan pengurangan risiko pandemi adalah koordinasi, advokasi, dan kolaborasi antar stakeholder (pemangku kepentingan) terkait,” terangnya.

Sigit menyampaikan, kerjasama lintas sektor dalam pencegahan dan pengendalian zoonosis tersebut diwujudkan melalui kerjasama program Emerging-Pandemic Threats (EPT-2) dengan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID). Kerjasama ini melibatkan Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah daerah, serta organisasi internasional seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Pangan Dunia (FAO).

Sementara itu, Anung Sugihantono, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan mengatakan, Indonesia telah mempunyai sistem kewaspadaan dini dan respons yang terintegrasi untuk mengatasi ancaman pandemi (penyakit yang menyebarluas) pada manusia. “Salah satu keberhasilan dalam pengendalian zoonosis ialah dengan menurunnya angka kasus flu burung pada manusia, sejalan dengan menurunnya kasus pada hewan melalui kerjasama antara petugas lapangan dari sektor kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan,” ungkapnya.

Sedangkan I Ketut Diarmita, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian menegaskan bahwa kesehatan hewan sangat berperan penting terhadap terciptanya kesehatan global, terlebih karena hewan adalah salah satu sumber pangan. Oleh karena itu, Ia sebutkan bahwa upaya pengendalian zoonosis merupakan prioritas utama dalam kesehatan hewan karena dapat meminimalisir ancaman pada kesehatan masyarakat dan meningkatkan ekonomi industri peternakan.  Untuk itu Ia berpendapat perlu adanya peningkatan kapasitas sumber daya kesehatan hewan dalam deteksi, pencegahan, dan respon terhadap penyakit hewan, terutama zoonosis.

Selain itu, pencapaian yang tak kalah penting terkait penanggulangan zoonosis yang bersumber dari satwa liar disampaikan oleh Wiratno, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, “Pembangunan Sistem Informasi Pelaporan Kesehatan Satwa Liar (SEHATSATLI) merupakan salah satu upaya deteksi dini penyakit pada satwa liar di ex-situ yang berpotensi menular pada hewan domestik dan manusia,” jelasnya. Wiratno melanjutkan, pihaknya juga berkomitmen menanggulangi zoonosis dengan membentuk gugus tugas “One Health” yang anggotanya terdiri dari lintas sektor untuk pengendalian zoonosis bersumber satwa liar.

Di tengah keberhasilan Indonesia dalam mengendalikan ancaman pandemi, Sigit kembali mengingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan oleh lintas sektor untuk mencegah pandemi di masa depan. Mengingat sumber daya alam Indonesia termasuk keanekaragaman hayati yang ada, corak sosial ekonomi masyarakat maka Indonesia tetap menempatkan pencegahan zoonosis dan Penyakit Infeksi Baru (PIB) sebagai prioritas upaya pengendalian.

Mark McGovern, Konsulat Jenderal Amerika Serikat mengapresiasi Indonesia yang telah berhasil mengembangkan integrasi dan koordinasi lintas sektoral untuk mendeteksi, mencegah dan menanggulangi ancaman pandemi. Ia menegaskan diperlukan komitmen lebih lanjut, guna memastikan sistem yang telah ada dapat terus berjalan dengan baik. 

McGovern memastikan sistem yang telah dikembangkan berjalan dengan baik, maka perlu untuk mengenali peran dari setiap kementerian dan lembaga terkait dalam mendukung keamanan kesehatan global. ”Pemerintah Amerika Serikat sebagai negara sahabat siap mendukung Indonesia untuk terus meningkatkan kapasitas dalam mencegah dan mengendalikan zoonosis”, pungkasnya.

Pastikan Stok Pangan Aman, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman kembali sidak ke pasar Kamis

POTRET PERTANIAN - Pastikan Stok Pangan Aman, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman kembali sidak ke pasar Kamis, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman kembali sidak ke pasar Kamis (8/11/208) pagi. Amran mengecek ketersediaan beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), sebagai barometer stok beras nasional. 

Berdasarkan pantauan langsung bersama Direktur Umata (Dirut) Bulog, Satgas pangan Polri, Dirut PT. Food Station Tjipinang Jaya sebagai pengelola PIBC, perwakilan Bank Indonesia dan Pemprov. DKI Jakarta, Mentan memastikan ketersediaan beras mencukupi dan harga terkendali. 

"Kita mengecek pangan di lapangan mulai jam 5 subuh tadi. Alhamdulillah semua posisi stabil. Tidak ada alasan (harga naik). Maaf jangan lagi di bawa ke ranah politik. Ini pangan kita stabil harga ayam hanya Rp 27 ribu/kg, telur Rp 22ribu/kg, kami cek langsung dengan tim lengkap", ujar Amran. 

Amran menyampaikan, kenaikan harga beras medium belakangan ini di tengah kondisi stok beras yang cukup, sebagai sebuah anomali. 

Stok Beras PIBC

Dirut PT Food Station Tjipinang Jaya, Arief Prasetyo Adi menjelaskan, stok beras di PIBC sangat cukup.

"PIBC hari ini stok nya 50 ribu ton, kemarin 51 ribu ton. Lebih tinggi dari biasanya", kata Arief. 

Ia mengakui ada pergerakan harga untuk beras jenis medium. Dan sudah diantisipasi dengan meminta Pemerintah melalui Bulog agar melakukan Operasi Pasar untuk menjaga laju inflasi. 

"Tapi dalam kondisi saat ini sebenarnya memang produksi dari pertanian kita dalam hal ini beras sebenarnya cukup. Kalau di Jakarta saya harus sampaikan cukup, pasokan masih normal", tambahnya. 

Menurut Arief ketersediaan beras medium menurun karena ada kecenderungan di up menjadi beras premium. 

"Artinya kalau panennya segitu kemudian mereka prefer ke premium, karena margin nya lebih tinggi. Ini adalah mekanisme ekuilibrium baru, ini fenomena yang terjadi. Jadi bukan masalah produksi", sambung Arief. 

Selama ini yang disebut sebagai beras Premium itu dengan spesifikasi 5% broken. Sedangkan di pasar sekarang, yang disebut premium itu 15% broken. Dan jumlahnya samgat banyak (dibanding medium). 

"Kalau saya melihatnya ini lebih baik. Jadi orang ngambilnya berasnya yang lebih baik. Nggak mau lagi beras medium", pungkasnya. 

Saat ini ketersediaan beras premium di PIBC mencapai lebih dari 80%. Sedangkan beras medium di bawah 15%. 

Bulog Siap Kawal Pasar

Dirut Bulog Budi Waseso (Buwas) menyatakan Bulog siap memenuhi permintaan PIBC menambah stok beras medium untuk mengendalikan harga. Sampai hari ini Kamis (8/11/2018) Buwas melaporkan stok beras yg ada di Bulog jumlahnya 2,7 juta ton.

"Stok kita sangat banyak, dan kita operasi pasar setiap hari. Saya berharap malah tiap hari bisa diserap 15ribu ton, utk stabilisasi harga. Ternyata memang serapannya kecil. Kita cek di lapangan hari ini stok beras begitu banyak", kata Buwas.

Buwas menambahkan, program perubahan pola tanam Kementan membuat musim panen menjadi lebih cepat. Sehingga lebih menjamin ketersediaan beras. 

"Yaitu mulai Januari Februari sudah mulai ada panen. Ini saya sampaikan sulaya ymasyarakat tak usah takut tak usah ragu tak usah khawatir, kalau beras itu kurang", tegas Buwas.

Satgas Pangan Awasi Spesifikasi Beras 

Mengenai anomali harga beras medium yang naik saat pasokan beras mencukupi, Ketua Satgas Pangan Pusat Irjen Setyo Wasisto menyebutkan bahwa ada yang merubah spesifikasi (beras) dari medium menjadi premium. 

"Ini menjadi tugas saya sebagai satgas pangan untuk melakukan pengawasan. Kita akan lakukan cek di lapangan dan melakukan uji laboratorium juga atas kualitas beras yang ada di lapangan", ujarnya. 

Ini penting dilakukan agar apa masyarakat membeli beras sesuai dengan kriterianya, baik medium maupun premium. Agar tidak ada konsumen yang dirugikan. 

Di luar persoalan anomali harga beras medium, Bank Indonesia mencatat dalam 3 tahun terakhir Indonesia berhasil menjaga stabilitas harga pangan, sehingga menurunkan sangat signifikan angka inflasi pangan. 

"Untuk pangan tahun 2010 (inflasi pangan) cukup tinggi 10%. Memang 2-3 tahun terakhir berhasil ditekan terakhir menjadi 1,29%. Bahkan 3 tahun berturut-turut harga pangan stabil. Lebaran 2 tahun terakhir juga sangat stabil, Oktober kemarin bahkan pangan deflasi", jelas Trisno Nugroho Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta. 

Komoditas pangan yang menyumbang penurunan inflasi di antaranya beras, daging ayam ras, juga telur. Ia memastikan Pangan tidak ada masalah di tahun-tahun ini.

"Kami juga memberi proyeksi terkendali sampai akhir tahun ini. Ini rekor, baik sekali di DKI Jakarta TPID nya melihat bahwa 2-3 tahun terakhir pangan nggak ada masalah" . (*)

Berbagi Pengalaman Penanganan Penyakit Zoonosis kepada 42 Negara

POTRET PERTANIAN - Berbagi Pengalaman Penanganan Penyakit Zoonosis kepada 42 Negara, Sebanyak 42 negara peserta Pertemuan Tingkat Menteri Global Health Security Agenda (GHSA) 2018 Ministerial Meeting melakukan kunjungan ke Balai Besar Veteriner (BB-Vet) Denpasar pada hari ini Kamis (08/11). 

Kunjungan lapang (Site Visit) GHSA ini sebagai suatu kehormatan sekaligus kebanggaan tersendiri bagi Indonesia karena pertemuan yang digelar pada tanggal 6-8 November di Nusa Dua, Bali ini merupakan forum tahunan dan tertinggi GHSA antar negara-negara dunia.

Tujuan dari pertemuan tersebut adalah untuk membangun dunia yang aman dari ancaman penyakit menular melalui kerja sama antar negara dengan meningkatkan komitmen untuk mencapai ketahanan kesehatan global, regional, dan nasional sekaligus sebagai bentuk upaya berbagi pengalaman dalam upaya mencegah, mendeteksi, dan merespons cepat berbagai penyakit menular berpotensi wabah.

Pada kunjungan tersebut beberapa negara telah menyatakan ketertarikan dan keinginannya untuk dapat belajar dan bertukar informasi tentang cara kerja dan keberhasilan BB-Vet dalam memitigasi dan menangani beberapa penyakit zoonosis.  

BB-Vet Denpasar sendiri merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis dibawah Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian  yang mengimplementasikan standar internasional dalam melakukan kegiatan surveilans, investigasi, monitoring, metode, dan pelaporan (peta bencana) di bidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner.

Dengan kelengkapan laboratorium (lab) di bidang virologi, bioteknologi, bakteriologi, parasitologi, patologi, dan kesmavet (kesehatan masyarakat veteriner) para peserta kunjungan kerja diajak melihat secara langsung proses dan metode kerja lab yang digunakan  khususnya yang berkaitan dengan penyakit zoonosis (ditularkan melalui hewan).

Pada kesempatan tersebut, Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian menyampaikan, semenjak ditetapkan sebagai Balai Besar, BB-Vet Denpasar telah menerima kunjungan belajar resmi dari berbagai institusi lintas negara, baik lembaga setingkat kementerian, saintifik, akademik, maupun lembaga-lembaga lab dari berbagai penjuru dunia. 

Ia katakan bahwa BB-Vet menjadi benteng terdepan dalam tindakan pencegahan, pendeteksian, dan penanggulangan penyakit zoonosis di kawasan Indonesia Tengah yang meliputi wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).  BB-Vet Denpasar telah mengantungi sertifikat ISO-17025 (2008) dan ISO-9001 (2015).

Di Indonesia saat ini terdapat 3 BB-Vet, masing-masing adalah BB-Vet Denpasar, BB-Vet Wates (Jawa Tengah), dan BB-Vet Maros (Sulawesi Selatan) serta Balai Veteriner (BVet) masing-masing di Medan (Sumatera Utara), Bukittinggi (Sumatera Barat), Lampung, Subang (Jawa Barat), dan Banjar Baru (Kalimantan Selatan).

Lebih lanjut Ia jelaskan bahwa BB-Vet Denpasar, menjadi rujukan utama lab nasional untuk penyakit Jembrana (infeksi lentivirus) pada sapi Bali (Bos sondaicus) dan Septicaemia Epizootica: infeksi bakteri di hewan ternak, kerbau, dan babi.  BB-Vet Denpasar juga telah, sedang, dan akan melakukan pemusnahan penyakit yang bersumber dari hewan, yaitu: Brucellosis di Pulau Sumba, NTT (2015); Rabies NTB dan Haemoragic septicaemia (2017); Jembrana Bali (2019-2022); dan Rabies Bali (2019-2020).

“Kunjungan kerja delegasi negara anggota dan peserta GHSA Ministerial Meeting 2018 tidak saja penting dalam perspektif kemampuan Indonesia mencegah (prevent), mendeteksi (detect), dan menanggulangi (respond) penyakit yang bersifat zoonosis, tetapi juga menunjukkan penerapan fungsi lab yang signifikan dalam menjaga kesehatan hewan, manusia, serta lingkungan,” ungkap Fadjar Sumping.

Menurutnya, tantangan besar dalam peternakan dan kesehatan hewan yakni meningkatnya kepedulian global terhadap penyakit hewan lintas batas / penyakit menular yang muncul sehingga laboratorium hewan memiliki peran yang sangat penting dalam sistem kesehatan. 

“Kapasitas laboratorium merupakan prasyarat untuk respons yang efektif dan efisien terhadap penyakit hewan lintas batas termasuk zoonosis”, kata Fadjar Sumping. “Kami akan terus tingkatkan kapasitas untuk menyediakan layanan "laboratorium melalui program kesehatan hewan nasional di Indonesia, serta kerjasama dengan mitra pembangunan di tingkat regional”, pungkasnya.

Delegasi GSHA mengapresiasi kesediaan BBVet Denpasar untuk berbagi pengalaman ini dan menurut Menteri Kesehatan Uganda Dr. Jane Aceng, tertarik dengan fasilitas laboratorium milik Indonesia yang sangat baik, menurutnya penerapan biosafety dan biosecurity telah dilakukan sehingga potensi bahaya yang mungkin akan ditimbulkan dapat diantisipasi. 

Lebih lanjut,  Gluseppe Ruocco,  Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Italia menyampaikan apresiasi kepada Indonesia yang telah memberikan informasi tentang kesehatan hewan yang sangat bermanfaat.

Kamis, November 08, 2018

Benarkah Indonesia Adalah Contoh Surga yang Diciptakan Tuhan

POTRET PERTANIAN - Surga, atau juga sorga (bahasa Sanskerta svarga, "kayangan") adalah suatu tempat di alam akhirat yang dipercaya oleh para penganut beberapa agama sebagai tempat berkumpulnya roh-roh manusia yang semasa hidup di dunia berbuat kebajikan sesuai ajaran agamanya.

Dalam bahasa Jawa kata tersebut diserap menjadi swarga. Sorga dalam bahasa Arab disebut jannah.

Terkait judul tulisan ini "Benarkah Indonesia Adalah Contoh Surga yang Diciptakan Tuhan " Sudah sejauh mana kita menjelajah Indonesia?  Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia bagai hamparan permadani dengan keindahan alam yang luar biasa. Mulai dari kekayaan alam bawah laut sampai gugusan pegunungan.

Di Indonesia langit, bumi dan segala isinya serba ada, yang mungkin di negara-negara lain itu tidak ada, Kita ambil contoh kecil aja, mungkin di arab sana hanya ada beberapa buah, seperti kurma, Tapi di Indonesia, ada buah jambu, mangga, jeruk, ceplukan, santiet, dan ribuan bahkan jutaan buah yang ada di Indonesia.

Takhanya itu pemandangan Indonesia adalah salah satu negara kita yang dikenal akan kekayaan wisata alamnya. Keberagaman wisata alamnya membuat keindahan alam Indonesia tidak ada habisnya. 

Indonesia yang terletak di dua samudera dan dua benua ini memiliki rangkaian kepulauan dengan jumlah lebih dari 17 ribu pulau memang dikenal sebagai negara yang kaya akan keragaman alam, dan budayanya.

Seperti dalam Al-Qur'an menjelaskan tentang negeri Akhirat (kehidupan setelah mati) untuk orang yang selalu berbuat baik. Surga itu sendiri sering dijelaskan dalam berbagai surah di Al-Qur'an, sebagai tempat keabadian berupa jannah (taman yang indah/kebun) yang terdapat sungai-sungai mengalir di bawahnya.

Lagi lagi apa yang tidak ada di Indonesia, Bahkan Ketika kita bangun tidur langsung melihat munculnya matahari, udara juga segar karena masih banyak pepohonan hijau disekeliling kita, isi perut bumi dan kekayaan alam melimpah, musim hanya ada dua panas dan hujan, tentu semua itu membuat iri negara-negara lain karena mereka tidak ada sumber daya alam yang selengkap seperti di negara ini, apa saja ada dan tidak ada yang tidak ada.

lalu menurut sahabat semua Benarkah Indonesia Adalah Contoh Surga yang Diciptakan Tuhan didunia ini.?

Tapi sayang nya banyak sisi kelemahan kita sebagai warganegara indonesia, rasa kebanggaan nasional kita kurang, tidak seperti rakyat negara lain seperti Amerika Serikat, rasa kebanggaan nasional mereka kuat sekali, padahal dari sisi jumlah penduduk tidak selisih jauh hanya hitungan puluhan juta saja lebih banyak dari kita. 

Kadang banyak hal membuat saya geleng-geleng kepala, merasa aneh dengan tingkah laku kita yang suka meremehkan negara kita sendiri sendiri, Kita suka menghujat pemimpin kita sendiri, suka berbuat hal yang merusak tatanan sendi kehidupan kebangsaan kita sendiri, dan kurangnya rasa kebanggaan nasional.

Mari kita tumbuhkan rasa bangga sebagai warganegara Indonesia, negeri ini seperti yang banyak disebut  “Tanah Surga”, marilah sama-sama kita kelola dan menjaganya dengan baik, kita manfaatkan sebesar-besarnya, tapi jangan kita kotori negeri kita tercinta ini dengan melempar tahi ke muka sendiri, Mari kita jaga Surga dunia yang Tuhan Berikan Kepada kita semua Kususnya Warga Negara Indonesia.

Jangan sampai Tuhan Marah kepada kita dan mencabut contoh surga ini, karna bagi Tuhan cukup kunfayakun untuk membalik tanah surga kita jika tuhan sampai marah melihat tingkah kita yang tidak menjaga amanat dari Tuhan sebagi Khalifah di bumi surga ini.

Jangan sampai seperti pulau Atlantis yang digambarkan sebagai negeri dengan peradaban yang sangat maju. tapi Sayang, seperti diceritakan Plato, negeri hebat itu tenggelam ke dalam samudra “hanya dalam waktu satu hari satu malam”. Itu diperkirakan terjadi pada 11.600 tahun yang lalu.

Jangan sampai menjadi Atlantis yang akhirnya menjadi “surga yang hilang.”(Pras)


Rabu, November 07, 2018

Dwi Natalia dan Andi Muhammad Ricki Rosali Terpilih sebagai Duta Ayam dan Telur Periode 2018–2021

POTRET PERTANIAN -  Dwi Natalia dan Andi Muhammad Ricki Rosali Terpilih sebagai Duta Ayam dan Telur Periode 2018–2021, Kementerian Pertanian (Kementan) yang diwakili Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) I Ketut Diarmita menyematkan Offie Dwi Natalia dan Andi Muhammad Ricki Rosali sebagai Duta Ayam dan Telur Periode 2018–2021. Keduanya terpilih melalui seleksi yang cukup ketat dan selama tiga tahun ke depan akan menjadi ikon bidang perunggasan yang diharapkan dapat mengajak dan mempengaruhi masyarakat Indonesia agar senantiasa gemar mengonsumsi daging dan telur ayam.

"Ajang ini merupakan langkah yang sangat tepat untuk mencari ikon yang berpengaruh dalam mengkampanyekan pentingnya protein hewani asal unggas bagi masyarakat. Terutama dalam meningkatkan konsumsi daging dan telur ayam," kata I Ketut pada sambutannya di Hotel Ambhara, Jakarta pada Selasa (06/11/2018).

Menurut I Ketut, kebutuhan nutrisi terutama protein hewani sangat penting untuk diperhatikan. Protein hewani mengandung asam amino yang tidak tergantikan yang berfungsi sebagai zat pembangun dan mempengaruhi metabolisme. Juga merupakan unsur yang sangat penting dalam tumbuh kembang anak.

Protein hewani merupakan makanan terjangkau untuk masyarakat Indonesia terutama telur dan daging ayam. Kedua komoditas tersebut bahkan telah dinyatakan surplus, bahkan sudah ekspor ke berbagai negara. Data statistik peternakan menunjukkan peningkatan tajam pada produksi unggas nasional. Jika pada awal tahun 1970an kontribusi daging unggas hanya sebesar 15%, tetapi pada tahun 2017 produksi-nya telah mencapai 2.147,21 ribu ton atau 66,34% terhadap produksi daging secara keseluruhan. 

Produksi telur juga memiliki kontribusi yang cukup besar. Dari total produksi telur secara keseluruhan sebanyak 1.970.853 ton, telur ayam buras mencapai sebanyak 196.138 ton (9,95%), sedangkan ayam ras petelur sebanyak 1.428.195 ton (72,47%), dan telur itik sebanyak 290.110 ton (14,72%).

Untuk ekspor telur ayam tetas, mulai dilakukan sejak tahun 2015 ke Myanmar dan hingga Oktober 2018 jumlah kumulatif yang sudah diekspor sebanyak 11.003.358 butir dengan nilai 117,04 Miliar rupiah. Sedangkan ekspor produk olahan daging ayam mulai dilakukan dari tahun 2016 hingga September 2018 sebanyak 118,81 ton dengan nilai 9,5 Miliar rupiah. Adapun negara tujuan ekspor yaitu Jepang, Australia, Hongkong, Timor Leste, Qatar, India, PNG, Saudi Arabia, Singapura dan Korea Selatan.

Saat ini, Indonesia dinilai merupakan negara yang masyarakatnya masih cukup rendah dalam mengonsumsi daging dan telur ayam. Berdasarkan perhitungan data konsumsi antara BPS, Kementan dan Kemenko Perekonomian ditetapkan bahwa tingkat konsumsi penduduk Indonesia terhadap daging ayam hanya sekitar 11,5 kg/kapita/tahun dan untuk telur hanya sekitar 6,63/kapita/tahun. Masih jauh lebih rendah dari negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Singapura.

Pada kesempatan yang sama, Fini Murfiani selaku Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan menyampaikan, dengan edukasi yang baik tentang manfaat daging ayam dan telur,  diharapkan dapat meningkatkan gizi dan prestasi anak bangsa. 

Fini juga berharap Duta ayam dan telur harus dapat menyampaikan informasi secara komprehensif tentang manfaat daging ayam dan telur, serta menghilangkan mitos yang beredar selama ini meskipun telur dan daging ayam menjadi sumber protein hewani yang terjangkau harganya, mudah diperoleh dan diolah, serta disukai oleh hampir semua golongan masyakat. 

"Pemenang Duta Ayam dan telur diharapkan harus bisa menyampaikan kepada masyarakat luas terkait mitos mitos yang beredar dimasyarakat, yakni telur ayam penyebab bisul, jerawat dan kolesterol sedangkan daging ayam mengandung hormon yang bisa merusak kesehatan," jelas Fini.

Ke depan, Duta Ayam dan Telur nantinya akan banyak terlibat dalam kegiatan promosi ayam dan telur yang berkesinambungan dan termasuk dalam rangkaian Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) yang sudah dicanangkan oleh Menteri Pertanian pada tahun 2011.

"Kami imbau agar semua stakeholders yang terkait juga ikut terlibat dalam kampanye peningkatan konsumsi ayam dan telur, terutama baik dari unsur swasta, pemerintah pusat, pemerintah daerah, asosiasi dan unsur lainnya, sehingga dapat bersinergi dengan Duta Ayam dan Telur terpilih maupun para finalis Duta Ayam dan Telur ini," pungkasnya.

Kementan juga memberikan apresiasi kepada panitia dari Pinsar Indonesia dan Forum Media Peternakan yang telah menyelenggarakan Ajang Pemilihan Duta Ayam dan Telur Periode 2018-2021 tersebut. Begitu juga dengan beberapa juri yang ikut menseleksi antara lain yakni Vera Damayanti (Pakar SDM, VE Education Centre), Ahmad Dawami (Ketum GPPU), dan Fini Murfiani Direktur  Pengolahan dan Pemasaran  Hasil Peternakan Ditjen PKH. 

Panen perdana bawang putih di Kabupaten Malang seluas 30 hektare

Sumber Foto:HUMAS HORTIKULTURA
POTRET PERTANIAN - Panen perdana bawang putih di Kabupaten Malang seluas 30 hektare, Direktur Perlindungan Hortikultura, Sriwijayanti Yusuf saat panen raya Desa Bendosari, Kecamatan Pujon Kabupaten Malang, Mengungkapkan "Disini panen perdana bawang putih seluas 30 ha dengan produktivitas 12 sampai 15 ton per hektar. Artinya ada 360 ton sampai 450 ton bawang putih yang dipanen dari sini,". 

Luasan 30 ha tersebut mencakup 3 Kecamatan yaitu Pujon Ngantang dan Kasembon. Dengan varietas varietas yang ditanam umumnya lumbuh hijau yang sudah adaptasi dengan kondisi Malang.

Lebih lanjut Sriwijayanti menuturkan Kabupaten Malang merupakan sentra produksi bawang putih sehingga hasil produksinya menjadi penyangga nasional.

“Kebutuhan bawang putih setiap tahun rata rata 500 ribu ton sementara produksi nasional kita hanya sekitar 20 ribuan ton. Artinya 96 persen kebutuhan bawang putih nasional di penuhi melalui impor. Ini yang harus kita kejar dan dorong petani bawang putih untuk terus bekerja cerdas dan semangat menanam bawang putih guna mewujudkan swasembada di tahun 2021,” ungkapnya.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Malang, Budiar mengungkapkan luas tanam bawang putih di Kabupaten Malang sampai dengan akhir Oktober 2018 seluas 186 ha. 

Dimana 30 ha pertanaman oleh importir dan 156 hektar tanaman swadaya. Pada November 2018 direncanakan tanam 54 ha yang terdiri dari 24 ha dari importir dan 30 ha APBN.

“Jadi sampai Akhir Desember 2018 diperkirakan luas tanam bawang putih di Malang seluas 240 hektar. Kami akan mendorong importir untuk terus mengembangkan bawang putih di Malang khususnya di Kecamatan Pujon, Ngantang, Kasembon, Wagir, Jabung dan Poncokusumo serta Karangploso,” ungkapnya.

Budiar menyebutkan sampai saat ini terdapat 7 importir yang melakukan wajib tanam di Malang dengan total target tanam mencapai 611 Hektar. Kabupaten Malang ke depan akan menjadi sentra pengembangan bawang putih. 

“Yang terpenting juga kami sekaligus siap menumbuhkan penangkar bawang putih guna mendukung program swasembada bawang putih 2021,” ujarnya.
Importit Wajib Tanam

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Suwandi mengatakan dalam rangka percepatan swasembada bawang putih nasional Kementan telah menetapkan Permentan Nomor 38 Tahun 2017 dan perubahannya yaitu Permentan No. 24 Tahun 2018 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH).

Dimana Importir bawang putih wajib menanam dan menghasilkan bawang putih di dalam negeri sebesar 5 persen dari volume impor yang diajukan. 

“Tahun ini Ditjen Hortikultura mengalokasikan 5.949 hektar melalui dana APBN yang tersebar di 19 Provinsi dan 78 Kabupaten/Kota. Untuk Kabupaten Malang Tahun 2018 baru dialolasikan 30 Hektar bawang putih, tahun 2019 nanti akan bisa di tingkatkan lagi,” katanya.

Suwito yang mewakili importir yang hadir pada acara panen bawang putih tersebut mengaku sangat bangga dan mengapreasi dukungan Kementan dan Dinas Pertanian yang mengawal kegiatan wajib tanam importir khususnya di Malang.

“Kami sangat terbantu dengan dukungan dari semua pihak sehingga panen hari ini bisa berjalan baik sekaligus hasilnya cukup baik bisa mencapai 12 hingga 15 ton per ha untuk varietas lumbuh hijau,” akui dia.

Hal yang sama dikatakan Landy wakil dari importir, bahwa kewajiban tanam di Malang akan diselesaikan seluas 55 ha yang direncanakan pada bulan November.

Kebijakan wajib tanam bagi importir tentu terus didukung dan ditaati bersama karena bisa memberikan solusi terbaik bagi kelompok tani. 

“Saat ini benih dan saprodi sudah siap, serta hujan sudah mulai turun, realisasi tanam segera dimulai,” katanya.
Kelompok tani di Malang sangat senang dengan adanya pola kemitraan ini bersama importir, seperti yang dikatakan Ketua Kelompok Tani Alam Berkah sekaligus penangkar Benih di Desa Tawangsari Kecamatan Pujon Kabupaten Malang, Muhammad Yusuf.

"Hasil panen kali ini cukup baik karena kondisi iklim mendukung dan hujan sudah mulai turun. Kelompok binaan kami siap menyukseskan malang menjadi sentra bawang putih nasional dan mendukung swasembada bawang putih 2021,” sebutnya.