• Breaking News

    Benih dan Masyarakat

     


    Luas wilayah Desa Jengkok 445.165 km dengan jumlah penduduk 5159 orang, dan areal persawahan 338 ha, hal itu menjadikan sebagian besar penduduknya hidup dari hasil pertanian. Petani Desa Jengkok telah lama mempelajari, mengidentifikasi, mengubah, menciptakan, membudidayakan dan saling tukar menukar bermacam-macam jenis benih secara bebas. Melalui pengalamannya tersebut petani tradisional mampu menciptakan benih tanaman termasuk padi yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi, rasa dan lainnya pada suatu saat dan pada tempat tertentu.


    Pada saat kondisi masyarakat tradisional, petani hidup bebas dan mandiri tidak tergantung pada pihak-pihak lain, sehingga mereka dapat mengembangkan dan menikmati pola kehidupan dan budaya yang selaras dengan alam yang lestari. Disamping itu lingkungan masyarakat petani tradisional dahulu banyak petani yang sudah menjadi ‘ pemulia tanaman ‘ yang sangat produktif, menghasilkan banyak jenis padi lokal yang mampu beradaptasi dengan perkembangan keadaan lingkungannya, baik lingkungan abiotik maupun biotik. Setiap benih lokal mempunyai varietas atau jenis padi lokal dan jenis tanaman lain yang khas. Kemampuan menghasilkan benih-benih adaptif dengan kondisi lingkungan merupakan salah satu bentuk kearifan tradisional yang pada saat ini sudah semakin menghilang.

    Disaat petani tradisional hidup bebas selaras dengan alam dan kearifan lokalnya, pemerintah telah menetapkan kebijakan bahwa untuk meningkatkan produksi padi secara cepat hanya dapat di capai bila petani padi dapat menerapkan teknologi pertanian moderen yang kemudian dikenal sebagai paket teknologi ‘ revolusi hijau ‘yang oleh pemerintah dimasyarakatkan dengan istilah panca usaha tani yang meliputi :
    1. Penanaman benih unggul yang seragam.
    2. Pengolahan tanah intensif.
    3. Pemupukan dengan pupuk buatan / kimia.
    4. Perbaikan jaringan pengairan.
    5. Pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan pestisida kimia.
    6.  
    Dampak revolusi hija 
    Dengan masuknya pendekatan revolusi hijau terjadi perubahan drastis keadaan ekosistim pertanian / persawahan juga perubahan sosial masyarakat pedesaan, perubahan tersebut antara lain :
    1. Dari masyarakat pertanian tradisional menjadi masyarakat pertanian moderen atau pertanian industri.
    2. Dari ekosistim beragam menjadi ekosistim seragam.
    3. Dari penggunaan berbagai jenis benih (polikultur) menjadi penggunaan benih-benih unggul tertentu (monokultur).
    4. Dari petani bebas dan mandirimenjadi petani yang bergantung pada pemerintah, dunia industri dan dominasi peneliti.
    5. Dari budaya seleksi menjadi budaya membeli.

    Tujuan :
    • Penerapan sistim produksi wilayah dan pasar alternatif.
    • Mengembangkan, mengidentifikasi, mengembalikan, varietas lokal yang  hilang melalui persilangan.
    • Meminimalisir ketergantungan benih terhadap pihak lain.
    • Membangun pertanian yang adil terhadap manusia, tumbuhan dan mahluk lainnya.
    • Membangun sistem pangan lokal, kedaulatan pangan.
    • Penganekaragaman tanaman, baik tanaman ekologis, ekonomi dan gizi.

    Hal-hal yang perlu di pecahkan atau di dialogkan.
    Hakekat sebuah pertanian adalah benih, baik buruknya produksi padi dan tanaman lainnya tergantung dari kualitas benih itu sendiri. Maka dari itu  kami Tim bersama anggota kelompok juga masyarakat petani mengadakan pertemuan mingguan yang di sebut forum mingguan petani, mengajak bersama-sama melihat-lihat, melakukan studi dan menganalisanya bersama tentang penganekaragaman tanaman yang ada dan berkembang di desanya, serta melihat sejauh mana sistem pangan lokal yang berjalan di masyarakat pedesaan, perlu membahas proses produksi, jalur distribusi, dan analisa situasi hubungan-hubungannya.

    Unsur lokal dan luar (global nasional) dalam sistim pangan yang sangat bervariasi dari satu tempat dengan tempat lainnya, semakin besar atau kuat unsur luar maka semakin lemah dan ketergantungan sistim pangan di daerah tertentu. 

    Petani merupakan aktor penting dalam sistim pangan, petani merupakan penghasil bahan pangan sekaligus pengguna. Cara mereka menghasilkan pangan, mempengaruhi kualitas bahan pangan, budaya makan mereka akan mempengaruhi pula cara menghasilkan bahan pangan.

    Petani membutuhkan pasar sebagai tempat menjual hasil sawah dan ladangnya, sementara pasar membutuhkan hasil petani untuk mendapatkan keuntungan. Semakin kuat posisi pasar dalam menentukan apa yang laku dan berapa nilai jualnya, semakin lemah posisi petani.

    Dalam menyikapi hal diatas, maka kami sekelompok petani melakukan berbagai kegiatan melalui studi petani dalam rangka mengembangkan dan keanekaragaman hayati, pemuliaan benih padi dan sayuran lokal melalui sekolah lapangandan latihan dari petani ke petani.

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad