Selasa, September 08, 2015

Optimalisasi Program-Program Dan Kegiatan Karang Taruna

Baca Juga

kegiatan kesenian

  • Kegiatan di Bidang Keagamaan
Sudah tidak di ragukan lagi, agama memegang peranan vital dalam kehidupan seseorang. Agama di ibaratkan sebagai cahaya penerang dalam kehidupan. Namun,  sangat di sayangkan, pokok-pokok ajaran agama, tampaknya suda mulai di tinggalkan sebagian besar penganutnya, termasuk di pedesaan. Bahkan untuk sekedar kewajiban pokok sekalipun, shalat misalnya. Jika kita melihat kondisi masjid d pedesaan, walaupun tidak semuanya, umumnya masjid hanya di isi oleh segelintir orang dan itu biasanya di isi oleh orang – orang yang sudah lanjut usia. Jika kita mau jujur, kemanakah para pemudanya? Ternyata para pemudanya lebih suka nongkrong di sisi-sisi jalan, jondol pojokan jalan ataupun nongkrong di warung-warung kopi. Melihat fenomena seperti ini tentu saja keberadaan karang taruna sangat di butuhkan. Sudah seharusnya yang memakmurkan masjid adalah para pemuda yang masih gagah perkasa dan masih bersemangat tinggi. Wajar jika yang membujuk para pemuda yang tidak mau shalat di lakukan oleh para pemuda sendiri, sebab mereka yang sebaya dan mengetahui karakter masing-masing di bandingkan dengan orang tua. Biasanya jika  orang tua yang membujuk tampaknya terkesan menggurui dan menceramahi, berbeda halnya dengan ajakan teman sebaya. 

Ada beberapa saran yang dapat di lakukan untuk meraih atau mengajak para pemuda yang masih belum berminat beribadah agar dapat ikut bersama-sama menghidupkan suasana keagamaan di pedesaan.
  • Mengikuti hobi mereka selama tidak bersifat negative.
Jika kita mengajak mereka untuk shalat di masjid atau hadir di pengajian tentu saja mereka akan menolaknya. Berbeda dengan apabila kita mencari tahu kegiatan apakah yang menjadi kegemaran mereka? Sebagai contoh, jika mereka menyenangi tenis meja, mengapa tidak kita sediakan tenis meja di depan masjid. Ketika waktu shalat, hentikan permainan itu dan ajaklah mereka untuk mengambil air wudlu dan melakukan shalat berjamaah. Setelah itu baru permainan di loanjutkan kembali. Memang mengajak orang pada hal yang belum biasa di lakukaan tidak semudah yang di bayangkan. Mungkin sebagian dari mereka akan menolak, ada yang pergi bahkan tidak memutup kemungkinan ada yang melawan. Namun tidak ada salahnya kita mencoba cara ini.
  • Mengajak mereka dengan cara yang baik.
Jangan sekali-kali memaksa mereka dengan kata-kata kasar, apalagi dengan nada yang bermaksud menghinaataupun merendahkan mereka. Hal tersebut tidak akan mendapatkan rasa simpatik dari mereka bahkan akan mendapatkan rasa anti pati. Raihlah hati mereka dengan cara selembut mungkin. Kalaupun pada awalnya mereka tidak menerima ajakan kita, jangan sampai mereka menolak kehadiran kita. Pelan-pelan tapi pasti. Jangan tergesa-gesa. Biarkan berjalan secara alami. Kalau mereka tidak mau ke masjid, biarkan terlebih dahulu. Mungkin lama kelamaan mereka akan mersa malu jika melihat teman-temannya masuk msajid.
  • membantu mereka.
Kebanyakan kita, jika melihat pemuda yang senang mabuk-mabukan, berjudi ataupun jauh dari masjid adalah memperlihatkan sikap kebencian, kemurkaan bahkan mengeluarkan sumpah serapah. Tentulah sikap menghakimi tersebut bukanlah solusi tepat untuk merubah  mereka. Kemarahan yang kita luapkan belum tentu bisa menyelesaikan masalah. Alangkah lebih baiknya jika kita membantu mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar. Misalnya, jika mereka lebih suka bermain bola di lapangan dari pada shalat asyar di masjid, maka berikanlah bola sepak pada mereka bila perlu lengkap dengan seragam timnya. Sudah menjadi naluri manusia jika seseorang di bantu oleh orang lain maka akan muncul perasaan malu jika ia tidak bisa membalasnya. Jika tidak mampu member balasan yang setimpal, ia akan mematuhi atas apa yang di perintahkan oleh orang yang memberinya. Jelasnya, kita harus berusaha memasuki dunia mereka, setelah itu antarkan dunia kita pada dunia mereka. Ajaklah mereka mengikuti kebiasaan kita atau mungkin suatu saat ada yang sakit di antara mereka, maka kitalah yang harus menjadi orang pertama yang menjenguk mereka. Berikan perhatian lebih pada mereka. Dengan perhatian yang kita berikan, boleh jadi akan berkesan pada hati mereka.
  • Keberadaan mereka sangat berarti.
Tidak ada salahnya jika kita banyak memuji pada mereka. Kemudian yakinkanlah pada diri mereka bahwa keberadaan mereka sangat berarti bagi desanya. Yakinkanlah pula bahwakehadiran mereka sangat di perhitungkan oleh masyarakat. Berikan kepercayaan pada mereka untuk melakukan sesuatu. Tegaskan pada mereka bahwa tanpa kehadiran mereka, kita bukan apa-apa. Dengan sanjungan yang kita berikan kepada mereka, mereka akan merasa senang dan merasa di hargai. Apapun yang kita minta, insya aalah akan mereka lakukan.
  • Sabar dan jangan tergesa-gesa.
Sesuatu yang wajar jika kita ingin mereka segera sadar dari kegiatan yang selama ini kita anggap menyimpang. Namun, hendaklah hal tersebut tidak membuat kita tergesa-gesa dalam bertindak. Biarkan prose situ berjalan secara natural. Ibaratnya jika ada pohon yang bengkok, jangan lantas  di luruskan sebab akan patah. Demikian juga dengan para Pemuda “ nakal “,Ubah kebiasaan mereka dengan perlahan-lahan. Jika kita salah langkah karena terburu-buru mengambil tindakan, bisa jadi mereka akan semakin menjauhi kita, bahkan sewaktu-waktu akan “menyerang” kita.
  • Membuat program yang terarah dan terukur.
Untuk meraih dan mengajak mereka, tidak dapat di selesaikan dengan program yang asal-asalan. Sebab, bisa jadi hasilnyapun akan asal-asalan.Program yang di kerjakan harus betul-betul terarah , terpola serta dapat di pantau perkembangannya. Apapun yang di lakukan terhadap mereka kita harus dapat melihat dampaknya sehingga memudahkan kita dalam memgevaluasi program-program kita. Yang gilirannya akan memudahkan kita untuk mengambil kebijakan untuk program selanjutnya atau bisa jadi sebagai bahan pertimbangan efektif atau tidaknya program yang selama ini kita jalankan. Jika program yang selama ini kita jalankan di pandang masih cocok dan layak untuk di lakukan, maka program itu masih bisa di teruskan. Namun sebaliknya, jika program di anggap tidak berhasil atau di pandang kontra-produktif, maka program tersebut harus segera di hentikan dan dig anti dengan program baru yang lebih kontra-produktif. Selain upaya meraih generasi muda, peran karang taruna dalam bidang keagamaan pun masih banyak yang dapat di lakukan.  

Pada dasarnya, kegiatan keagamaan dapat di kelommpokan menjadi dua

(a).kegiatan Reguler.
Merupakan program kegiatan yang di laksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kegiatan shalat berjamaah, pengajian mingguan, bulanan, dan kegiatan rutin lainnya. Karang Taruna di harapkan menjadi penggerak untuk dapat memakmurkan masjid sekaligus sebagai motivator kegiatan keagamaan lainnya.

(b).Kegiatan Insidentil.
Merupakan program kegiatan yang sewaktu-waktu di laksanakan, tanpa rencana terlebih dahulu atau sifatnya regular. Seperti peringatan hari-hari besar Islam. Pada acara-acara seperti ini karang taruna di harapkan menjadi pemeran aktif dalam mensukseskan acara-acara tersebut.  Tentu saja kegiatan di laksanakan dengan bekerjasama dengan semua pihak termasuk dengan aparat desa dan DKM.

Bersambung……
Rekomendasi Untuk Anda × +