• Breaking News

    Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam

    Kemeriahan Peringatan Maulid Nabi saw di Pakistan
    Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam - Secara Etimologi, kata maulid termasuk jenis kalimat isim muttasharif yang merupakan pecahan (musytaq) dari isim zaman berwazan maf'ilun. Kata ini berasal dari kata "wa-la-da", al-fi'il-madhi.

    Kata ini golongkan pada bab dua dalam Al-tashrif al-fi'il dengan di baca kasrah pada 'ain fi'il al-mudhori'nya. Kata ini mengandung arti waktu di lahirkan. Jadi peringatan maulid nabi adalah peringatan atau perayaan waktu atau hari lahirnya Nabi Muhammad Shalallahu 'alihi wasallam.

    Kebanyakann umat islam beranggapan bahwa peringatan dan perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad Shalallahu 'alihi wasallam adalah hal baru dalam Islam, sehingga sangat wajar jika pelaksanaannya di anggap bid'ah. Bagi paham yang menyatakan bahwa semua bid'ah adalah sesat dan haram tidak terkecuali, seakan-akan pandangan mereka sudah obyektif mengenai perayaan Maulid nabi besar di mana mereka menghukuminya haram, karena pandangan mereka peringatan maulid nabi termasuk bid'ah.

    Sebelumnya, peringatan Maulid Nabi saw sudah ada sejak zaman Nabi besar kita Muhammad Shalallahu 'alihi wasallam masih hidup dan beliau memberikan tauladan dan contoh peringatan maulid itu.

    Adapun golongan yang mengharamkan peringatan maulid nabi besar Muhammad Shalallahu 'alihi wasallam karena di anggap bid'ah menurut pemahaman mereka, itu lebih karena kurangnya kepandaian mereka dalam mengkaji Al-Qur'an dan Al-Hadits, serta sudut pandang mereka yang sempit dalam memahami masalah agama.

    Hukum Merayakan Maulid Nabi Muhammad Shalallahu 'alihi wasallam
    Memperingati atau merayakan hari yang sudah di anggap memiliki sejarahdan penting bagi dirinya ataupun bagi kebanyakan orang atau bagi sebagian umat adalah hal yang di anjurkan oleh Al-Qur'an dan di contohkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu 'alihi wasallam.

    Rosululloh ketika di tanya tentang mengapa beliu berpuasa di hari senin? Ada beberapa alasan tentang puasa di hari senin, tapi Rosululloh saw menjawabya dengan jawaban :

    "karena di hari itu aku di lahirkan dan di hari itu juga aku dapat wahyu". (HR. Imam Muslim, abu dawud dan Ahmad bin hanbal).

    Yang di tanyakan kepada Rosululloh adalah tentang keutamaan puasa di hari senin, maka seharusnya Rosululloh menjawab dengan sabdanya :

    "karena di hari senin dan di hari kamis itu amal setiap orang di laporkan, dan aku mengharap ketika amalku di laporkan dalam keadaan berpuasa".(HR.Tirmidzi).

    Ternyata bukan dengan sabda ini beliau menjawab, melainkan dengan menjelaskan kejadian di hari senin di mana jawaban beliau  "di hari senin aku di lahirkan" merupakan ajakan sekaligus pelajaran kepada umatnya untuk mengingat hari senin sebagai hari yang bersejarah bagi diri kita yaitu hari kelahiran Nabi Muhammad.

    Rosululloh selalu mengingat hari kelahiran beliau sendiri dengan selalu berpuasa di hari tersebut, artinya Rosululloh selalu memperingati hari kelahirannya. Walhasil, memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw adalah hal yang sudah di contohkan oleh beliau sendiri.

    Mengekspresikan kegembiraan atau merayakan hari yang di anggap memiliki kaitan sejarah dengan menampakan rasa senag merupakan hal yang di anjurkan oleh Al-Qur'an. Dalam surat Yunus ayat 58 di sebutkan :

    "Katakanlah! dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklaha itu mereka bergembira. KaruniaAllah dan Rahmat-Nya itu lebih baik dari apa yang  mereka kumpulkan. (QS.Yunus : 58)  

    Ayat ini memberi keterangan  kepada kita supaya bergembira atau merayakan kegembiraan atas rahmat Allah SWT kepada kita.

    Ibnu abbas menafsirkan ayat di atas dengan memberikan penjelasan bahwa kata Fadhlun (karunia) di artikan sebagai ilmu, adapun kata rahmat di artikan dengan Muhammad saw. Artinya, hendaklah keberadaan Muhammad saw membuat kalian bergembira. Maksudnya adalah kelahiran nabi muhammad saw di muka bumi atau keberadaan beliau di alam raya ini harus di sambut dengan gembira.

    Jadi, memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw dan merayakannya sebagaimana yang telah kita kenal dengan istilah peringatan dan perayaan maulid Nabi Muhammad saw adalah hal yang tidak sama sekali bertentangan dengan Al-Qur'an dan Al-Hadits, justru sebaliknya, adalah hal yang di legitimasi dalam Al-qur'an dan Al-Hadits serta di anjurkan.

    Banyak para ulama terkemuka dari kalangan ulama salaf al-shalih menyatakan bahwa peringatan maulid Nabi Muhammad saw adalah bid'ah hasanah yang berpahala bagi siapa saja yang melakukannya. Para ulama itu adalah :
    1. Syeikh al-Imam al-Hafidz Ibn al-Jauzi al-Hanbali
    2. Syeikh al-Imam al-Hafidz Ibn Dih yah 
    3. Syeikh al-Imam al-Hafidz Abu Syammah ( guru al-Imam al-Nawawi)
    4. Syeikh al-Imam al-Hafidz Ibn Katsir
    5. Syeikh al-Imam al-hafidz Ibn Rajab al-Hanbali
    6. Syeikh al-Imam al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqolani
    7. Syeikh al-imam al-Hafidz al-Suyuti
    8. Syeikh al-Imam al-Hafidz al-Sakhawi
    9. Dan lain-lain.


    Sejarah dan Tujuan Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw

    Sebagian umat Isalam tentunya mafhum bahwa Nabi Muhammad saw di lahirkan pada tanggal 12 Robi'ul Awwal tahun Gajah. Berpedoman dengan hal itu, umat Islam memperingati maulid Nabi Muhammad saw. Oleh orang jawa, bulan Robi'ul awwal di sebut juga dengan bulan mulud, sedangkan tradisi peringatan maulid di sebut juga dengan Muludan.

    Acara maulid di Negara Iraq

    Para sejarah Islam sepakat bahwa perayaan maulid Nabi muncul sekitar abad ke 6 H. Pelopornya adalah seorang raja yang alim, pemberani dan penuh ketaqwaan kepada Allah SWT, yaitu raja Irbil di Iraq. Nama Lengkapnya adalah Al-Muzhaffar Abu Sai'id al-kukuhburiy bin Zainuddin Ali Buktikin yang wafat pada tahun 630 H/1232 M.

    Tujuan peringatan Maulid itu sendiri adalah untuk menggugah kembali semangat keimanan kaum muslim dan menambah kecintaan kepada nabi Muhammad saw. Alasannya, pada saat itu terjadi kemerosotan akidah di kalangan umat Islam. Memperingati maulid Nabi  merupakan upaya membuka kembali sejarah perjuangan beliau dalam memperjuangkan Islam dan menegakkan Kalimat Allah di muka bumi. Dengan peringatan dan perayaan maulid Nabi di harapkan bisa meneguhkan kembali keimanan dan keislaman kaum muslimin.

    Sebagaimana hal ini di jelaskan dalam Al-Qur'an surat Hud ayat 120 sebagai berikut :

    "Dan semua kisah-kisah para rosul kami ceritakan kepadamu, yaitu kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu" (QS.Hud: 120)

    Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa Allah menceritakan kisah-kisah kehidupan para rosul terdahulu dengan tujuan meneguhkan hati nabi Muhammad saw.

    Nabi Muhammad saw saja masih butuh di teguhkan hatinya oleh Allah SWT  dengan menceritakan para rosul sebelumnya melalui wahyu, apalagi kita yang buakan nabi, tentu lebih butuh keteguhan hati ketimbang beliau. Allah SWT mengajarkan kepada nabi-Nya cara mengubah hati hamba-Nya dengan menceritakan kembali sejarah kehidupan para rosul.

    Untuk itu, tidak salah jika kita mengulas kembali kisah para rosul. Selain mengetahui sejarah para Nabi dan Rosul terdahulu, sebagai umat nabi Muhammad saw kita harus tahu dengan sejarah beliau dan akan lebih berkesan jika kita membaca tentang kehidupan dan perjuangan beliau di sebuah hari yang bersejarah. Momen yang paling tepat adalah di hari di mana beliau di lahirkan melalui acara peringatan dan perayaan Maulid Nabi Muhammad saw. 

    Keutamaan Memeperingati Maulid Nabi saw
    Ada nilai pahala yang besar bagi orang yang mau melaksanakan perayaan Maulid Nabi saw, sebagaimana hal itu telah menjadi kesamaan pendapat para ulama terdahulu maupun ulama sekarang, baik dari golongan ulama salaf maupun intelektual Muslim.

    Kegiatan muludan di Daerah Jawa

     Menyambut kelahiranatau keberadaan Muhammad saw di muka bumi merupakan perbuatan yang utama. Hal ini pernah di lakukan oleh Abu Lahab. Ia sangat bergembira atas kelahiran Nabii Muhammad saw sampai memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah.

    Ibnu Katsir dalam tafsir al-Bidayah wa al-Nihayah menjelaskan mengenai hal tersebut sebagai berikut :

    "Dan dalam mimpinya, Abu lahab berkata kepada Abbas, Sesungguhnya siksaku di ringankan pada hari senin, para ulama berpendapat, hal itu terjadi ketika Tsuwaibah menyampaikan berita gembira kepada abu lahab tentang kelahiran anak saudaranya, Muhammad bin Abdillah, ketika itu abu lahab langsung memerdekakan Tsuwaibah karena bahagia mendengar berita tersebut, maka abu lahab di ringankan siksanya dengan sebab peristiwa tersebut".

    Abu Lahab merayakan kegembiraan atas kelahiran Nabi saw dengan memerdekakan budaknya. Dengan itu ia di alam kubur pada setiap hari senin mendapat keringanan siksaan. bagaimana dengan kita umat Islam yang selalu mencintainya, merindukannya, merayakan dan menyambut gembira hari lahirnya?

    Baca Juga  "Pendapat Para Ulama Tentang Memperingati dan Merayakan Maulid Nabi Muhammad saw"




    Sumber Tulisan : 
    KH. Muhammad Nasir Muhyi (gus Nasir). "Katanya Bid'ah Ternyata Sunnah".Tahun 2010 

    Sumber Gambar :
    Google...

     

     









     







     



    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad