Jalan - Jalan Potret Pertanian Bersama Wakil Rektor III Unitas Padang Ke Kabupaten Pariaman

Jalan - Jalan Potret Pertanian Bersama Wakil Rektor III Unitas Padang Ke Kabupaten Pariaman - Hallo sahabat POTRET PERTANIAN , Pada Postingan Kali ini yang berjudul Jalan - Jalan Potret Pertanian Bersama Wakil Rektor III Unitas Padang Ke Kabupaten Pariaman, Semoga artikel ini dapat anda pahami dan dapat bermanfaat buat kita semua, Profil Daerah, terimakasih telah berkunjung ke website sederhana ini dan selamat membaca.

Judul : Jalan - Jalan Potret Pertanian Bersama Wakil Rektor III Unitas Padang Ke Kabupaten Pariaman
link : Jalan - Jalan Potret Pertanian Bersama Wakil Rektor III Unitas Padang Ke Kabupaten Pariaman

Baca juga


Jalan - Jalan Potret Pertanian Bersama Wakil Rektor III Unitas Padang Ke Kabupaten Pariaman

Potret Pertanian - Selasa 25/11/16 Potret berkesempatan untuk jalan-jalan bareng rekan dan Jalan Potret Pertanian Bersama Wakil Rektor III Ke Kabupaten Pariaman dalam Rangka Mengantarkan undangan kepada Bupati Padang Pariaman utnuk menghadiri acara Bakti Mahasiswa Uitas padang yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 5 sampai 6/11/2016 di Kayutanam padang pariaman. tapi kali ini saya akan menganalkan kepada sahabat potret pertanian tentang daerah yang terkenal dengan Lubuak Nyarai sebagai objek wisata alam yang belum banyak dikenal oleh publik. Terletak di Korong Koto Buruak, Nagari Lubuak Aluang, Kecamatan Lubuak Aluang. Jarak dari pusat Kecamatan Lubuak Aluang ke lokasi sekitar 6 Km. Akses ke lokasi ini hanya bisa dilewati dengan jalan kaki atau transportasi kuda beban.

Secara geografis, Kabupaten Padang Pariaman memiliki luas wilayah 1.328,79 Km2 dengan panjang garis pantai 42,1 Km yang membentang hingga wilayah gugusan Bukit Barisan. Luas daratan daerah ini setara dengan 3,15 persen luas daratan wilayah Propinsi Sumatera Barat. Posisi astronomis Kabupaten Padang Pariaman terletak antara 0°11’-0°49’ Lintang Selatan dan 98°36’ - 100°28’ Bujur Timur.

Secara administrasi Kabupaten Padang Pariaman terdiri dari 17 kecamatan dan 103 Nagari. Batas wilayah administratif Kabupaten Padang Pariaman adalah sebelah Utara dengan Kabupaten Agam, sebelah Selatan dengan Kota Padang, sebelah Timur dengan Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar, dan sebelah Barat dengan Kota Pariaman dan Samudera Indonesia.

Kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam tercatat memiliki wilayah paling luas, yakni 228,70 km², sedangkan Kecamatan Sintuk Toboh Gadang memiliki luas wilayah terkecil, yakni 25,56 km². Kecamatan 2x1  Kayu Tanam berada di wilayah yang paling tinggi yaitu 100 - 1000 m dari permukaan laut (dpl)  sedangkan yang paling rendah adalah Kecamatan Batang Gasan dengan ketinggian 2 - 75 m dari permukaan laut (dpl). 

Sejarah Singkat Kabupaten Padang Pariaman.
Masyarakat Padang Pariaman, masih menurut narasi tambo, turun dari darek minangkabau, dari pedalaman tengah sumatera. penduduk daerah ini menurut laporan tahunan pemerintah daerah, berdasarkan pengakuan dari masyarakat padang pariaman sendiri, barasal dari paguruyung Batusangkar, yang terletak di darek minangkabau (Pemda Tk I Sumbar, 1978;7). Rantau Pariaman, selanjutnya menurut Dobbin, didirikan oleh imigran yang berasal dari Batipuh yang dianggap memiliki landasan kerajaan (Dobbin, 2008:84). Dalam waktu yang tidak pernah diketahui secara pasti, berkemungkinan sejak tahun 1300 M, para perantau awal(peneruka) tersebut turun bergelombang  ke wilayah pantai barat dan membuka pemukiman. Desa-desa awal di pantai Padang Pariaman, menurut catatan Suryadi, sesuai perjalanan waktu lalu menjadi entrepot-entrepot dagang dan pelabuhan. Entrepot dagang dan pelabuhan tersebut dikembangkan oleh orang -orang dari kampung-kampung tertentu didarek (seperti yang telah disebut diatas), yang semula tujuannya untuk memajukan kepentingan dagang mereka sendiri. Ketika pemukiman koloni itu semangkin berkembang, daerah-daerah pemukiman juga terus membesarkan dirinya seperti fungi dikulit manusia.

Hamka Mengatakan, nama pariaman sendiri berasal dari kata dalam bahasa arab,"barri aman". sebagaimana yang dikutip suryadi, kata dalam bahasa arab tersebut kurang lebih memiliki arti: "tanah daratan yang aman sentosa" (suryadi, 2004:92). Dalam literatur pribumi lain, kata Pariaman kadang juga dianggap berasal dari "parik nan aman", yang artinya kira-kira pelabuhan yang aman. Kapal-kapal yang singgah untuk berdagang di bandar-bandar di Rantau Pariaman dapat dengan aman bertransaksi dagang (Bagindo Armaidi Tanjung, 2006;11).

Sebelum orang eropa datang ke kawasan Rantau Pariaman, Kota-kota pelabuhan penting dikawasan ini, seperti pelabuhan pariaman dan tiku sudah dikunjungi pelaut-pelaut dari arab, china, dan gujarat (suryadi, 2004:93). Di kota-kota ini, komoditi dagang dari pedalaman minangkabau ini ditumpuk sebelum dikapalkan ke pelabuhan-pelabuhan lain. Kota-kota ini sudah lama menjadi pelabuhan penyalur keluar emas dari pedalaman minangkabau (suryadi, 2004:94),  Kawasan tengah sumatera sejak dulu memang terkenal sebagai penghasil emas. Itulah sebabnya terkadang, Pulau Sumatera juga disebut sebagai pulau emas. Jalur penyalur emas yang dihasilkan pedalaman Minangkabau kemudian dibawa ke pesisir pantai baik ke pesisir barat maupun ke pesisir timur. ke pesisir barat dipasok melalui kampung-kampung pantai di Rantau Pariaman.

Setelah kemerdekaan, Daerah administrasi periode kolonial, priaman, tikoe en de danau districten kemudian disahkan menjadi Kabupaten dengan nama Kabupaten Padang Pariaman berdasarkan Undang-undang Nomor 12 tahun 1956 dengan ibukota Kota Pariaman. Pada awalnya Kabupaten Padang Pariaman sesuai dengan Peraturan Komisaris Pemerintah di Sumatera No 81/Kom/U/1948 tentang Pembagian Kabupaten di Sumatera Tengah yang terdiri dari 11 Kabupaten diantaranya disebut dengan nama Kabupaten Samudera dengan ibukotanya Pariaman, meliputi daerah kewedanaan Air Bangis, Pariaman, Lubuk Alung, Padang Luar-Kota, Mentawai dan Nagari-Nagari Tiku, Sasak dan Katiagan.

Kabupaten Samudera ini terdiri dari 17 wilayah (gabungan nagari-nagari). Kabupaten Padang Pariaman dibentuk dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1956 tanggal 19 Maret 1956 tentang Pembentukan Daerah otonom Kabupaten Dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Tengah, dimana Propinsi Sumatera tengah dibentuk menjadi 14 Kabupaten, yang salah satunya adalah Kabupaten Padang/Pariaman dengan batas-batas sebagai yang dimaksud dalam pasal 1 dari Surat Ketetapan Gubernur Militer Sumatera Tengah tanggal 9 Nopember 1949 No. 10/G.M/S.T.G./49, dikurangi dengan daerah Kampung-Kampung Ulak Karang, Gunung Pangilun, Marapalam, Teluk Bajur, Seberang Padang dan Air Manis dari kewedanaan Padang Kota yang telah dimasukkan kedalam daerah Kota Padang, sebagai dimaksud dalam Surat ketetapan Gubernur Kepala Daerah Propinsi Sumatera Tengah Tanggal 15 Agustus 1950 No. 65/G.P./50 Bupati Padang Pariaman semasa Agresi Milter Belanda Tahun 1948 adalah Mr. BA. Murad

Kabupaten Padang Pariaman sampai tahun 2016 memiliki 17 Kecamatan, dan 103 nagari yang setelah dilakukan pemekaran nagari sesuai dengan Surat Gubernur Sumatera Barat Nomor 120/453/PEM-2016 tanggal 26 Mei 2016, sehingga di Kabupaten Padang Pariaman terdapat 103 Nagari.
Kecamatan yang paling banyak memiliki nagari adalah Kecamatan VII Koto Sungai Sarik yaitu 12 Nagari, Kecamatan Lubuk Alung, Nan Sabaris sebanyak 9 Nagari, Kecamatan Batang Anai, 2x11 Enam Lingkung, V Koto Kampung Dalam, Ulakan Tapakis sebanyak 8 Nagari, Kecamatan Padang Sago, Patamuan, sebanyak 6 Nagari, Kecamatan IV Koto Aur Malintang, Sintuk Toboh Gadang, Enam Lingkung, sebanyak 5 Nagari, dan Kecamatan Sungai Geringging, Sungai Limau,V Koto Timur, 2x11 Kayutanam sebanyak 4 Nagari, kemudian Kecamatan Batang Gasan hanya mempunyai 3 nagari.

Semenjak dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) DPRD No 05/KEP.D/DPRD.2008 dan SK Bupati Padang Pariaman Nomor 02/KEP/BPP/2008 tertanggal 2 Juli 2008, Ibukota Kabupaten Padang Pariaman dipindahkan dari Kota Pariaman ke Paritmalintang, yakni Nagari Paritmalintang Kecamatan Enam Lingkung

Berikut Daftar yang pernah memerintah di Padang Pariaman sejak tahun  1945 hingga sekarang.
Bupati Kabupaten Padang Pariaman
No
Nama
Periode Jabatan
1 Sutan Hidayat Syah
1945 – 1946
2 Ibrahim Datuk Pamuncak
1946 – 1947
3 BA. Murad
1947 – 1950
4 Said Rasyad
1950 – 1953
5 Taher Samad
1953 – 1956
6 Harun Al Rasyid
1956 – 1958
7 Na’azim Sutam Syarif
1958 – 1959
8 Raharjo
1959 – 1960
9 Syamsu Anwar
1960 – 1961
10 JB. Adam
1961 – 1966
11 Muhammad Noer
1966 – 1975
12 Prof. Drs. Harun Zein
1975
13 Muhammad Zein Chatib
1975 – 1980
14 Kol. Inf. H. Anas Malik
1980 – 1990
15 H. Zainal Bakar, SH
1990 – 1994
16 Ir. H. Nasrul Syahrun
1994 – 1999
17 Drs. Armyn AN
1999 – 2000
18 Drs. H. Muslim Kasim AK, MM Dt. Sinaro Basa
2000 – 2005
19 Drs. H. Muslim Kasim AK, MM Dt. Sinaro Basa 2005 – 2010
20 Drs. H. Ali Mukhni 2010 - 2015
21 Drs. H. Ali Mukhni       2015 - 2020


Demikian sekilas tentang kabupaten Pariaman semoga bermanfaat dan salam sukses selalu dari Potret Pertanian.


Demikianlah Artikel Jalan - Jalan Potret Pertanian Bersama Wakil Rektor III Unitas Padang Ke Kabupaten Pariaman

Sekianlah Pembahasan Jalan - Jalan Potret Pertanian Bersama Wakil Rektor III Unitas Padang Ke Kabupaten Pariaman kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk kita semua. sampai jumpa di postingan Berikutnya dan salam sukses selalu dari Potret Pertanian.



Terima kasih atas kunjungan Anda di Potret Pertanian. "Bagi yang Berminat menulis di Potret Pertanian?. Punya Pengalaman didunia pertanian, atau ingin Berbagi Solusi dan Informasi Penting Untuk Pertanian. Kirimkan tulisan anda ke e-mail: prasetyo.budi3@gmail.com atau klik tautan Contact Us dibawah ini
  • Contact Us

  • 0 Komentar untuk "Jalan - Jalan Potret Pertanian Bersama Wakil Rektor III Unitas Padang Ke Kabupaten Pariaman"
    Back To Top