Padi Amfibi Solusi Antisipasi Dampak Perubahan Iklim

Padi Amfibi Solusi Antisipasi Dampak Perubahan Iklim - Hallo sahabat POTRET PERTANIAN , Pada Postingan Kali ini yang berjudul Padi Amfibi Solusi Antisipasi Dampak Perubahan Iklim, Semoga artikel ini dapat anda pahami dan dapat bermanfaat buat kita semua, Budidaya Tanaman, Tanaman Pangan, terimakasih telah berkunjung ke website sederhana ini dan selamat membaca.

Judul : Padi Amfibi Solusi Antisipasi Dampak Perubahan Iklim
link : Padi Amfibi Solusi Antisipasi Dampak Perubahan Iklim

Baca juga


Padi Amfibi Solusi Antisipasi Dampak Perubahan Iklim

-- --
POTRET PERTANIAN -Strategi antisipasi terhadap dampak perubahan iklim telah dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. Strategi yang dilakukan bersifat langsung (berupa kekeringan dan banjir) maupun yang bersifat tidak langsung berupa meningkatnya populasi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Kekeringan dapat memberikan dampak negatif pada semua stadia tumbuh tanaman padi mulai saat vegetatif awal hingga reproduktif. Kekeringan yang terjadi pada fase vegetatif dapat menngganggu proses fotosintesis tanaman padi dan menurunkan laju pertumbuhannya.

Apabila kekeringan hanya terjadi sementara maka pengaruhnya dapat dipulihkan. Berbeda halnya jika kekeringan terjadi pada fase reproduktif, seperti ketika pembungaan dan pengisian gabah, pengaruh stress kekeringan pada fase ini sulit dipulihkan dan dapat berakibat puso atau gagal panen.

Terminologi amfibi digunakan untuk menunjukkan kemampuan tumbuh beberapa varietas padi yang dapat beradaptasi dengan baik pada kondisi lahan kering (gogo) maupun lahan basah (sawah). Varietas padi yang memiliki kemampuan tumbuh di dua kondisi tersebut kemudian disebut sebagai padi amfibi.

Air merupakan salah satu input yang sangat penting bagi sistem produksi padi sawah yang mengkonsumsi air lebih banyak dibandingkan bila ditanam di luar lahan sawah yang tidak selalu digenang. Ketersediaan air tidak hanya mempengaruhi produktivitas tanaman, luas areal tanam dan intensitas pertanaman, melainkan juga berengaruh terhadap potensi perluasan areal baru, bahkan menentukan kualitas produksi gabah.

Belakangan ini ketersediaan air irigasi untuk budidaya padi sawah makin terbatas karena: (1) bertambahnya penggunaan air untuk sektor industri dan rumah tangga, (2) durasi curah hujan makin pendek akibat perubahan iklim, (3) cadangan sumber air lokal juga berkurang, dan (4) terjadinya pendangkalan penampungan kelebihan air run off seperti waduk.

Fenomena kekeringan pada pertanaman padi dapat terjadi akibat intensitas dan atau frekuensi curah hujan yang rendah atau terjadinya hujan yang tidak merata (menyimpang dari pola curah hujan normal), sehingga pasokan air pada stadia vegetatif dan generatif tidak terpenuhi.

Kekeringan pada fase pertumbuhan generatif padi dapat menurunkan hasil 30-90%. Upaya antisipasi dampak buruk tersebut antara lain dapat dilakukan melalui pengembangan varietas adaptif kekeringan.

Dengan semakin meningkatnya kebutuhan air dari berbagai sektor dan semakin menipisnya persediaan air tanah, maka upaya yang harus dilakukan adalah mengefisienkan penggunaan air. Artinya air yang ada harus dimanfaatkan seoptimal mungkin sesuai kebutuhan tanaman.

Selama pertanaman padi terdapat tiga fase pertumbuhan, yaitu fase vegetatif (0-60 hari), fase generatif (60-90 hari), dan fase pemasakan (90-120 hari). Kebutuhan air pada ketiga fase tersebut bervariasi, yang tertinggi diantaranya ketika pembentukan anakan aktif, anakan maksimum, inisiasi pembentukan malai, bunting dan pembungaan.

Perlu diingat bahwa varietas unggul merupakan salah satu komponen utama dalam budidaya padi. Sejak terjadinya revolusi hijau peranan varietas telah memberikan sumbangan yang sangat signifikan terhadap peningkatan hasil dan keberlanjutan produksi padi dunia dalam menghadapi berbagai kendala lingkungan yang terus mengancam termasuk kekeringan.

Oleh sebab itu, pengunaan varietas unggul yang toleran terhadap kekeringan menjadi salah satu teknologi penting dalam mengantisipasi penurunan produksi padi yang diakibatkan oleh keterbatasan air.

Dukungan teknik budidaya padi yang tepat selain kecocokan varietas diharapkan dapat mengurangi pengaruh negatif kekeringan terhadap produksi padi nasional.

Varietas unggul padi tahan kekeringan dan rendaman
No.

Varietas
Umur
(HSS)
Potensi
Hasil (t/ha)
 Tekstur Nasi
1.
Limboto
125
6,0
Sedang
2.
Batutegi
120
6,0
Pulen
3.
Towuti
115
7,0
Pulen
4.
Situ Patenggang
120
6,0
Sedang
5.
Situ Bagendit
120
6,0
Sedang
6.
Inpari 10 Laeya
112
7,0
Pulen
7.
  Inpago 4
124
6,1
Pulen
8.
  Inpago 5
118
6,2
Sangat pulen
9.
  Inpago 6
118
6,2
Sangat pulen
10.
  Inpago 7
111
7,4
Pulen
11.   
  Inpago 8
119
8,1
Pulen
12.
  Inpago 9
109
8,4
Sedang
13.
  Inpari 38 Agritan
115
8,2
Pulen
14.
  Inpari 39 Agritan
115
8,5
Pulen
 Fenomena banjir sering terjadi di musim hujan pada bulan Oktober-Maret, yang dapat terjadi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi. Strategi antisipasi untuk mengurangi kerusakan tanaman akibat banjir adalah dengan menanam varietas padi yang memiliki gen Sub1, yaitu gen yang mengendalikan toleransi tanaman padi terhadap rendaman terutama pada fase vegetatif. Varietas yang dapat bertahan hidup pada kondisi rendaman selama >10 -15 hari. (Shr)


Demikianlah Artikel Padi Amfibi Solusi Antisipasi Dampak Perubahan Iklim

Sekianlah Pembahasan Padi Amfibi Solusi Antisipasi Dampak Perubahan Iklim kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk kita semua. sampai jumpa di postingan Berikutnya dan salam sukses selalu dari Potret Pertanian.Minat Pupuk Mikro Organik Cair, Solusi Terbaik untuk semua Jenis Tanaman, Memperpanjang Mas Produksi Tanaman Cabe, Tomat, serta meningkatkan Produktifitas tanaman, Bagi yang berminat silahkan hubungi kami melalui Komentar atau kirim via email thifapramesta@gmail.com atau melalui contact Us dibawah ini
  • Contact Us

  • 0 Komentar untuk "Padi Amfibi Solusi Antisipasi Dampak Perubahan Iklim"
    Back To Top