Kamis, Februari 22, 2018

Berinovasi Inovasi, Lahan Kering Mampu Berproduksi Tinggi

Baca Juga

POTRET PERTANIAN - Sebagian areal pertanaman padi gogo dilahan kering dengan model pengembangan produksi largo super sudah memasuki masa panen. Lahan seluas 100 ha di Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen saat ini tidak terlihat hamparan sawah yang hijau tetapi hamparan sawah yang menguning karena perjalanan waktu umur padi. Musim tanam II 2017 ini memang berbeda dengan musim-musim sebelumnya karena pada musim tanam ini petani dikenalkan dengan teknologi baru untuk  budidaya padi lahan kering.

Pengawalan teknologi selama satu musim dilakukan sejak mulai pengolahan tanah hingga panen oleh Balai Penelitian Tanaman Padi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Nurkholis Peneliti dari BB Padi mengatakan “Bukan perjalanan yang mudah untuk meyakinkan petani bahwa lahan 100 ha yang ditanami varietas unggul dan teknologi largo akan berhasil.  Awalnya banyak keraguan yang muncul dari para petani terlihat dari raut wajah mereka, kata Nurkholis disela-sela panen di Banjareja pekan lalu. Pelan-pelan dengan berbagai pendekatan akhirnya petani sepakat lahan yang ada di Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen ditanami padi sesuai anjuran Pemerintah. Kendala-kendala dilapangan pelan bisa diatasi dengan dengan modal kesabaran.

Pemilihan areal lahan kering yang dekat dengan pesisir pantai selatan bukan tanpa alasan, Badan Litbang Pertanian punya tekad ingin meningkatkan produksi padi lahan kering sekaligus bisa memaksimalkan lahan tegakan kelapa agar petani punya nilai tambah.

Kondisi alam Kecamatan Puring tidak bisa disamakan dengan kondisi alam wilayah lainnya. Kecamatan yang tidak jauh dari pesisir pantai selatan ini mayoritas masyarakatnya sebagai petani dan peternak. Hasil bumi seperti padi, palawija, tanaman horti lainya ada disetiap petak lahan petani.  Pemanfaatan lahan secara maksimal oleh petani kecamatan ini patut dicontoh. Tidak ada sejengkal tanahpun yang tidak dimanfaakan.

Sistem integrasi tanaman dan ternak yang sudah puluhan tahun mereka jalani adalah warisan dari nenek moyangnya.  Selama ini meraka hanya belajar dari sinyal tanaman untuk menterjemahkan kapan tanah perlu dipupuk kandang dan akibat jika tanah tidak dipupuk kandang, sehingga kotoran ternak sapi dan kambing wajib hukumya dikembalikan ke lahan.

Memasuki masa panen massal awal musim ini, beberapa kegiatan telah dilaksanakan seperti sekolah lapang model pengembangan sistem produksi padi gogo largo super yang diikuti poktan dan gapoktan sekecamatan Puring.

Panen ubinan varietas Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10 dan Inpago 11 oleh BPS,  Dinas Pertanian Kebumen , BB Padi dan BPTP Balitbangtan Jateng  telah dilaksanakan (29/01/18).  Dari hasil panen tersebut diperoleh hasil ubinan BPS sebagai berikut: Inpago 8 : 5,0 t/ha, Inpago 9: 6,1 t/ha, Inpago 10: 7,9 t/ha, dan Inpago 11: 7,1 t/ha.

Pada musim-musim sebelumnya rata-rata hasil panen ditingkat petani 4 t/ha sehingga dengan inovasi largo super yang saat ini diterapkan bisa meningkatkan produksi 1-3 t/ha.  Inilah jawaban inovasi yang ditawarkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian kepada petani. Sambutan hangat petani dan keceriaan petani nampak mulai sumringah menyabut panen massal yang dilaksanakan dari Bulan Januari Hingga Awal Maret tahun ini.

Kebumen menjadi awal lahirnya teknologi largo super dan semoga Inovasi ini bisa diterapkan oleh petani Kecamatan Puring khususnya dan umumnya bisa diterapkan didaerah-daerah lain dalam rangka meningkatkan produksi padi di lahan kering dengan model pengembangan sistem produksi padi gogo largo super.(Shr) 
Rekomendasi Untuk Anda × +