Rabu, Juli 04, 2018

Akibat Irigasi Mati Petani Kulon Progo Gagal Panen

Baca Juga

POTRET PERTANIAN - Petani di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami gagal panen. Tanaman padi yang saat ini memasuki musim panen tidak bisa menghasilkan buih padi dengan baik. Bahkan, sebagian petani ada yang memilih membakar tanaman padi di sawah.

Sokirin, seorang petani di Desa Banguncipto, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, mengatakan mengalami gagal panen di lahan seluas 1.500 meter persegi. Ia mengatakan kondisi itu terjadi karena padi yang ditanamkan sudah tak teraliri air sejak 20 hari selepas penanaman.
"Habis 20 hari tanam padi itu irigasinya mati. Ya, mau bagaimana lagi, kami biarkan saja tanamannya," kata Sokiri saat sedang mengais buih-buih padi yang tak bisa tumbuh sempurna di lahan yang ia garap pada Rabu, 4 Juli 2018.

Sokiri sudah mengeluarkan modal Rp750 ribu untuk bibit padi, mengolah lahan dengan traktor, dan menanam padi. Nilai itu belum termasuk tenaga yang dikeluarkan untuk penyiangan atau mencangkul saat awal mengolah lahan.

"Ya, ini mengambil yang bisa diambil. Tidak tahu dapat berapa. Biasanya lahan 1.000 persegi bisa dapat enam kuintal gabah. Ini berapa kilogram, ndak tahu," ujar lelaki berusia 68 tahun ini.

Sokiri bertani tidak di lahannya sendiri. Ia menyewa lahan pertanian milik warga Kecamatan Nanggulangan dengan sistem bagi hasil. Di lahan seluas 3.000 meter persegi, ia membaginya bersama tetangga bernama Kholil.

"Taninya ada di dekat rumah juga, tapi lahan orang lain juga. Bagi hasil juga. Tidak punya lahan sendiri buat digarap," kata dia.

Ia mengatakan kegagalan ini menjadi yang terburuk sejak 1984. Saat itu, kondisi serupa terjadi karena saluran irigasi masih baru dan belum maksimal.

Sulaiman, tetangga sawah Sokirin, juga mengalami gagal panen serupa. Lahannya yang seluas sekitar 2.000 meter persegi gagal menghasilkan gabah.

Kepala Dinas Pertanian Kulon Progo, Bambang Tri Budi enggan memberikan komentar. Penolakan itu disampaikan melalui pesan singkat.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelaksana Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak (BBWSO), Modesta Tandiayuk mengonfirmasi matinya irigasi itu karena adanya perbaikan di saluran di kawasan Kalibawang, Kulon Progo. Total, saluran irigasi yang diperbaiki sepanjang 23 kilometer dari 2017 hingga 2019.

Akan tetapi, untuk penutupan saluran irigasi telah disepakati bersama Pemkab Kulon Progo, sejak 15 April hingga 31 Juli 2018. Lahan pertanian terdampak akibat penutupan saluran irigasi itu sekitar 1.632 hektar. "Kami sudah menyosialisasikan (penutupan saluran irigasi) ini ke para petani," kata dia.

Rekomendasi Untuk Anda × +