Kamis, Juli 19, 2018

Dongkrak Produksi Jagung di Lahan Masam Banjarbaru Menggunakan Fosfat Alam

Baca Juga

POTRET PERTANIAN - Dalam melakukan Budidaya Pertanian banyak hal yang yang harus diperhatikan, dari mulai kondisi iklim, bibit pupuk pestisida, Penanaman Perawatan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Tak terkecuali dengan tanaman Jagung, tanaman inimerupakan jenis tanaman yang rakus dengan yang namanya pupuk, baik pupuk organik maupun pupuk kimia, tentunya tak sembarang pupuk utnuk memdapatkan hasil yang baik dalam melakukan budidaya tanaman yang satu ini, karena dalam melakukan pemupukan bisa saja kebutuhan masing-masing tanaman akan berbeda tergantung dari jenis tanaman jagung dan kondisi lahan dimana tanaman tersebut dibudidayakan.

Untuk menentukan pupuk yang efektif tentunya kita harus tau kondisi lahan yang akan kita langsungkan prosesi penanaman Untuk mendongkrak Produksinya, seperti yang dialkukan oleh (Balitbang Pertanian). Kab. Banjarbaru.

DIkutip dari halaman Sinartani, Kekurangan pasokan fosfat pada lahan masam ternyata bisa dipenuhi melalui pemberian pupuk dengan kandungan fosfat alam hasil inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbang Pertanian). Kab. Banjarbaru pun mendapat giliran untuk bisa mendongkrak produksi jagungnya.

Kepala Balai Penelitian Rawa Pertanian (Balittra), Hendri Sosiawan menuturkan lahan lahan rawa seluas 100 ha (90 ha di Kab. Batola, dan 10 ha di lahan gelar teknologi (geltek) Taman Sains Pertanian (TSP) Banjarbaru) serta di lahan kering di Kab. Pleihari seluas 150 ha, dan 50 ha di Kab. Tanahbumbu tengah dipersiapkan menjadi demplot farm (denfarm) di lahan masam khususnya di Kalimantan Selatan, baik di lahan kering maupun di lahan basah. Penanaman jagung akan dimulai pada akhir September 2018 menjelang musim hujan.

Sembari menyiapkan denfarm tersebut, Balitbang Pertanian melakukan bimbingan teknis (Bimtek) dengan topik “Aplikasi Fosfat Alam Reaktif di Lahan Masam untuk Jagung” Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, Kalsel (18/7/2018).

Pada kesempatan pembukaan Bimtek, Kepala Badan Litbang Pertanian, Muhamad Syakir menyampaikan pentingnya acara tersebut. Syakir menekankan kerjasama kemitraan perlu terus dijaga dan ditingkatkan baik antara petani dengan pemerintah maupun petani dengan lembaga penelitian.

"Terdapat dua tipologi lahan yang belum optimal dikelola yakni lahan tadah hujan dan lahan rawa. Kementerian Pertanian berfokus pada pengelolaan dua tipe lahan tersebut. Keduanya memiliki tantangan pengelolaan sendiri," tuturnya.

Masalah utama para lahan rawa masalah adalah tata air, kemasam tanah (pH) yang rendah, juga kandungan Aluminium (Al) yang tinggi. Sementara pada lahan kering masalahnya adalah kekeringan atau kekurangan air, pH tanah dan kesuburan tanah yang rendah. Syakir yakin masalah-masalah tanah tersebut dapat dicari solusinya oleh para peneliti Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) antara lain melalui penerapan fosfat alam reaktif..

Pembangunan pertanian menurut Syakir, tidak semata pada peningkatan produktifitas, pada hakekatnya pemerintah mendorong bagaimana meningkatkan kesejahteraan petani. “Pemupukan yang baik, termasuk penggunaan fosfat alam merupakan langkah strategis dalam melakukan efisiensi dan efektifitas pemupukan,” lanjut Syakir.

Produktifitas yang tinggi harus dibarengi dengan efisiensi dan efektifitas yang tinggi pula. Pupuk yang menguap, terbawa oleh air, tidak efektif dalam penerapan dapat mencapai 50%, lanjut Syakir.

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Dedi Nursyamsi dalam kesempatan yang sama menuturkan, pemberian batuan fosfat alam memasok unsur hara P yang kurang tersedia di tanah masam di Indonesia. Di Indonesia terdapat lebih dari dua pertiga tanah bereaksi masam dan memiliki kadar C-organik rendah sehingga ketersedian unsur hara N P, K, Ca, dan Mg pada tanah tersebut rendah. "Batuan fosfat mengandung P, Ca, dan Mg tinggi serta dapat meningkatkan pH. Selain itu fosfat alam tidak perlu diolah di pabrik sehingga harga lebih murah," ujar Dedi.

Sejalan dengan Dedi, Kepala Balai Penelitian Tanah (Balittanah), Husnain menguraikan aspek efisiensi dan efektifitas penggunaan rock fosfat. “Rock phosphate dapat langsung digunakan. Tidak perlu diolah di pabrik terlebih dahulu. Memiliki sifat lepas lambat (slow release), efek residu dapat bertahan 4-5 musim tanam,” pungkas Husnain.

Salah seorang petani jagung sukses asal Pleihari, Budiono pun berbagi pengalaman cara budidaya jagung. Menurutnya pengolahan atau penyiapan lahan sangat berperan penting untuk pertumbuhan tanaman yang baik. Budiono berpesan agar menggunakan benih yang baik, pupuk organik yang cukup, menrapkan pola zig-zag, melakukan penyiangan (dangir) dan pembubunan, merawat tanaman dari gulma dan hama penyakit. “Pastikan benih yang kita tanam tumbuh, beri makan sesuai dengan kebutuhan,” papar Budiono.

Petani asal Kabupaten Tanah Laut, Fikri dan Hendri menyatakan bimtek ini sangat sesuai dengan kebutuhan mereka. “Bimtek hari ini sangat pas dengan kebutuhan kami, karena di kami terdapat lahan masam yang terdiri dari lahan basah juga lahan kering,” ujar Fikri bersemangat. Mereka berharap penerapan Rock Phospate dapat meningkatkan produksi tanaman jagung.

Bimtek ini menghadirkan narasumber Dr. Nuning Agrosubekti (Puslitbangtan), Dr. M. Azrai (Balitsereal), Dr. Husnain (Balittanah), Ir. Hendri Sosiawan CESA (Balittra), Dr. Sri Rochayati (Balittanah), dan Budiono, S.Pd. (petani jagung sukses) Acara bimtek terbilang sukses, sesi teori, diskusi, maupun praktek di lapangan diikuti peserta secara antusias dibarengi dengan berbagai pertanyaan kritis. Dihadiri oleh 59 orang petani dari Kabupaten Barito Kuala, Pleihari, dan Tanah Laut, penyuluh pertanian lapang, dan para peneliti Balittra, Balittanah, dan BBSDLP. (Saefoel Bachri-Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian). (gsh)
Rekomendasi Untuk Anda × +