Sabtu, Juli 14, 2018

Hydroponic dan Nasib Petani Menurut Pandangan Potret Pertanian

Baca Juga

Oleh Prasetyo Budi - Istilah hydroponic (diindonesiakan menjadi hidroponik) dikemukakan oleh W.A. Setchell dari Universitas of California, dengan keberhasilan W. F. Gericke dari universitas yang sama, dalam pengembangan teknik bercocok tanam dengan air sebagai medium tanam. Semula, Gericke memakai istilah aquaculture ketika ia melaporkan hasil percobaannya. Tetapi karena istilah ini sudah dipakai lebih bagi kegiatan lain (yaitu menumbuhkan tanaman dan binatang air), maka ia memutuskan perlunya istilah baru bagi ‘cara bercocok tanam baru’ itu. Kemudian W. A. Setchell mengusulkan hydroponics (dari kata Yunani hydro (air) dan ponos (kerja)), karena yang dimaksud memang ‘pengerjaan air’ atau hydroculture.

Tetapi walaupun hidroponik berarti pengerjaan air, sebenarnya hidroponik tidak seratus persen menggunakan air, melainkan selapis pasir juga sebagai tempat berakar tanaman. Hidroponik Gericke ini dulu memakai bak kertas berlapis aspal yang diberi kerangka penguat. Di atasnya dipasang anyaman kawat kasa yang tertutup kain terpal kasar beranyaman jarang. Di atas kain inilah diberikan selapis pasir tempat bertanam bibit tanaman. Sedangkan di bawah kawat kasa diisi dengan larutan mineral sebagai makanan bagi tanaman, sehingga ketika ujung akar tanaman menembus kain terpal maka ia akan menemukan makanan subur untuk hidup.

Bersamaan dengan penemuan Gericke yaitu ‘bercocok tanam tanpa tanah’ ini, ditemukan pula metode-metode bercocok tanam dengan cara lain. Yaitu bercocok tanam dengan menggunakan medium pasir seratus persen, medium kerikil, arang kayu, pecahan batu bara, dan vermiculite (sejenis batuan hasil tambang dari Montana, tersusun dari magnesium-aluminium-besi silikat). Kemudian setelah PD II berakhir, hidroponik makin dikembangkan dengan medium-medium lain, yaitu puim(batu apung), tanah gambut yang dikeringkan, dan pecahan clinker(sejenis batu bata yang keras). Timbullah kemudian istilah aggregat culture, sedangkan kalau hidroponik hanya memakai salah satu dari bahan di atas.

Sejak manusia mengenal pertanian, tanah merupakan media tanam yang paling umum digunakan dalam bercocok tanam. Seiring dengan perkembangan jaman dan dipacu oleh keterbatasan lahan yang dimiliki seperti tanah yang sempit atau tanah yang tidak subur, orang mulai bercocok tanam dengan menggunakan media tanam bukan tanah, seperti air, pasir dan lain-lain.

Hidroponik merupakan salah satu alternatif cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya. Hidroponik berasal dari kata Hydro (air) dan Ponics (pengerjaaan), sehingga hidroponik bisa diartikan bercocok tanam dengan media tanam air. 

Pada awalnya orang mulai menggunakan air sebagai media tanam mencontoh tanaman air seperti kangkung, sehingga kita mengenal tanaman hias yang ditanam dalam vas bunga atau botol berisi air. Pada perkembangan selanjutnya orang mulai mencoba media tanam yang lain, kemudian membandingkan keuntungan dan kerugiannya, sehingga selain media tanam air (kultur air) dipakai juga media pasir (kultur pasir) dan bahan porus (kultur agregat) seperti kerikil, pecahan genteng, pecahan batu bata, serbuk kayu, arang sekam dan lain-lain.

Merujuk Hidroponik merupakan salah satu alternatif cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya. artinya sitem hidroponik cocok digunakan untuk tempat tempat yang tak banyak mempunyai lokasi pertanian, atau lahan yang luas untuk bercocok tanam, contohnya petani yang berada didaerah perkotaan yang tak lagi ada lahan untuk berkebun atau bercocok tanam, lalu bagimana denga kondisi pertanian dipedesaan atau didaerah-daerah sentral pertanian yang masih banyak tempat untuk berladang.

Jawabanya tentu itu hanya sebatas pengetahuan untuk petani untuk mengenal cara-cara atau perkembangan teknologi dibidang pertanian dan tak harus dilakukan dilokasi yang masih banyak tempat atau lahan untuk bercocok tanam, Artinya Hidroponik baik dilakukan atau didaerah perkotaan dimana tak lagi ada lahan yang luas untuk menghasilkan produk pertanian. 

Timbul pemikiran sempit saya dalam memaknai hidroponik di Indonesia, di-Negara yang dikaruniai tanah yang subur, iklim yang mendukung apapun jenis tanaman pertanian yang bisa dibudidayakan oleh semua orang, "andai saja semua orang baik didesa, di kota Petani, Pegawai Negeri, DPR, Pegawai Swasta, Buruh Pabrik dll melakukan kegiatan bercocok tanam, lalu siapa yang akan membeli hasil pertanian.

Bagaimana nasib petani yang memang keseharianya dan penghasilanya dari bercocok tanam, dari mana mereka akan melangsungkan kehidupan jika hak petani yang seharusnya bisa dinikmati semua orang tak lagi laku untuk dijual, karena semua orang sudah mempunyai sayuran dari yang mereka budidayakan.

Karena dampak dari banyaknya barang pastinya kan membuat sebuah produk akan bernilai kecil, bahkan tidak laku untuk dijual, Pegawai negeri Punya gaji yang dibayarkan tiap bualan, DPR, atau pekerja lainya yang sebenarnya gaji mereka juga sudah disesuikan dengan kebutuhan hidup mereka, lalu bagaimana dengan petani, siapa yang akan membayarnya ?.

Menurut saya Petani adalah masarakat tingkat bawah yang selalu nerimo apapun kebijakan dinegeri ini, Yok kita lihat, Ketika Harga komoditi ditingkat petani dibeli dengan harga rendah oleh tengkulak, Adakah petani yang demo menuntut kenaikan harga ?, komplen terhadap pemerintah?. Tapi sebaliknya naiknya harga yang seharusnya bisa dinikmati oleh petani yang sesungguhnya dalam kondisi harga komoditi pertanian naik artinya dilapangan banyak petani yang gagal dalam budidayanya sehingga membuat langkanya barang tersebut, dalam kondisi seperti ini seharusnya petani bisa merasakan keberhasilan mereka, Namun apa yang terjadi, Pemerintah Ribut untuk sesegera mungkin menurunkan harga dengan berbagai cara, misalnya dengan Impor, cabai, bawang merah yang ahirnya akan memenuhi pasaran dan membuat rendahnya harga jual hasil petani.

Disisi lain Pemerintah selalu menggembor-gemborkan untuk  mengentaskan kemiskinan, dalam hal ini siapa yang miskin, Orang desa atau oranga kota ?. Oh iya banyak orang kota juga yang miskin, lalu mereka siapa, orang desa yang mengadu nasib dikota dengan segala keterbatasan baik ilmu maupun pengetahuan yang ahirnya menjadi pekerja, kuli dan lain sebagainya, karena didesa sudah taklagi bisa untuk mendapatkan hasil untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka, ahirnya program tersebut hanya menyisakan omong kosong karna petani tak dapat hidup sejahtera dalam kondisi tersebut.

Pemerintah harusnya sadar dengan hal ini, pemerintah seharusnya membiarkan semua berjalan sesuai dengan hukum alam, berjalan alami atau natural, ya biarkan harga naik, toh dengan naiknya harga salahsatu komoditi akan membuat petani berduyun-duyun menanamnya, yang ahirnya setelah panen harga pasti akan murah kembali.

Satu lagi Pemerintah mengembor- gemborkan program swasembada pangan, swasembada daging, ketika harga pangan naik dna harga daging naik pemerintah sibuk untuk menurunkan harga pangan dan daging, Ingat lah pemerintah petani kecil yang teraniaya dengan hal tersebut, Peternak kecil yang tak punya banyak sapi atau kambing biasanya akan menjual hasil ternaknya kala harga sedang mahal, tak setiap hari atau bulan petani menjual ternaknya, berbeda dengan pengusaha-pengusaha dibidang peternakan yang bermodal.

Lalu kapan Kita Indonesia sampai pada harapan untuk mencapai swasembada pangan Dan daging, karna hal diatas akan melemahkan minat para petani untuk beternak dan berbudidaya tanaman pangan. jangan salahkan jika beberapa waktu lalu Negeri yang dianugerahi tanah yang subur atau agraris harus impor kedelai dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan makanan Tempe dan Tahu dinegeri ini. Masarakat Indonesia kususnya petani Bukanlah Orang yang pemalas, Tapi lebih ke pada keadaan yang membuat mereka malas bercocok tanam karna dinilai tak bisa menghasilkan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sebagai petani.

Harapan saya sebagai anak petani, Biarkan sistem alam yang berjalan natural, pemerintah cukup Mengawal Perjalanannya, Biarkan ekosistem itu terbangun kembali dengan apa adanya, Yang bekerja tetaplah bekerja sesuai dengan kewajibanya masing masing, Biarkan cukup petani yang berbudidaya dengan sistem yang tepat dengan kawalan pemerintah sesuai Fitrahnya dengan mengurus pekerjaanya masing-masing. Yang Guru biarkan tetap menjadi Pendidik, Yang DPR MPR bairakan tetap dengan tugas pokonya, yang bekerja dipabrik biarkan dan kawal sesui hak dan kwajibanya.

Pemerinth Cukup melirik sambil duduk dan merokok bila mereka perokok, Tapi Ingat Merokot Membunuhmu he he.. turun dan beraksilah jika ada hal-hal yang akan merugikan petani atau masarakat negeri ini. maka Ekositem nya akan berjalan sesuai dengan kehendak alam. seperti matahri bulan bintang dan bumi berjalan sesuai aturan alam yang sudah diciptakan Oleh Sang Penguasa Alam ini, begitu pula dengan sistem pertanian kita dinegeri Indonesia yang kita cintai ini.

Kembali pada topik diatas Tentang Hidroponik, Biarlah itu menjadi inovasi pertanian yang cukup diketahui oleh petani tak perlu digalakkan dan diprogramkan buat para petani dan semua penghuni Negeri ini, Mungkin belum cocok untuk kita lakukan di tanah bangsa kita yang masih banyak lahan yang bisa ditanami oleh petani.

Karna Hidroponik adalah sistem modern yang akan berdampak pada program pemerintah yang ahir -ahir ini membagikan traktor untuk pengolahan lahan dengan nilai triliyunan akan berakhir tragis, tentu traktor dan alat pertanian yang dibagikan oleh pemerintah akan menjadi mangkrak dan jadi besi tua, jika petani menamam atau berbudidaya menggunakan sistem Hidroponik.

Demikian Pemikiran sempit yang saya miliki dan saya tuangkan tanpa ada paksaan dari pihak lain dan dalam keadaan sehat jiwa raga saat saya menulis ini, ahir kata, saya berharap semoga Bangsa yang besar ini akan berjaya dengan semua masarakatnya sejahtera " Salam Jaya Pertanian" .
Rekomendasi Untuk Anda × +