Senin, Juli 02, 2018

Potret Pertanian Modern Di Jawa Tengah

Baca Juga

POTRET PERTANIAN Semarang - Sebuah desa di Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, menerapkan sistem pertanian modern. Desa Dalangan mengaplikasikan sistem ini sejak awal 2015 atau memasuki musim tanam (MT) I.

Petani di desa itu menjawab tantangan salah satu dirjen kementerian pertanian dengan mencoba pertanian model baru. Selain Dalangan, ternyata sistem ini sudah dicoba di Blora dan Sulawesi.

"Waktu itu sore hari sekitar Oktober 2014, Gatot Irianto (Dirjen) datang dan menunjuk kami, siap tidak jika Dalangan jadi contoh program pertanian modern," ujar Kardjono, salah satu petani yang tergabung dalam Gapoktan Tani Mandiri Dalangan, beberapa waktu lalu.

Tantangan itu diterima oleh petani. Dalam kurun waktu dua bulan mereka membuat proposal dan mempersiapkan prasyarat utama.

Inti dari pertanian modern mencakup tiga pilar, yakni mekanisasi pertanian, meliputi penggunaan mesin dan konsolidasi lahan, manajemen korporasi, dan pertanian ramah lingkungan yang terintegrasi dengan peternakan dan pabrik kompos.

"Prasyarat modernisasi pertanian adalah menyediakan sehamparan lahan yang sudah dikonsolidasikan baik dengan modernisasi maupun pengelolaan manajemen," ucap Kardjono.

Ketua Gapoktan Tani Mandiri, Sukar, bercerita soal konsolidasi lahan. Di Dalangan, ada empat kelompok tani yang memiliki lahan total 170 hektare.

Program dari pemerintah pusat meminta petani menyediakan lahan awal 100 hektare. Artinya, setiap kelompok merelakan 25 hektare lahannya untuk menjadi proyek percontohan pertanian modern. Tidak ada lagi pematang sawah, seluruh lahan dilebur jadi satu.

"Jangan dibayangkan batas kepemilikan lahan hilang, batas pemilik tetap ada, yang dihilangkan cuma pematangnya supaya pengolahan pertanian lebih efektif," kata Sukar.

Ia menuturkan konsolidasi lahan berjalan selama tiga bulan, mulai Oktober sampai Desember 2014. Pertemuan dengan petani berlangsung sebanyak enam kali.

Ia meyakinkan para petani hak atas lahan tidak akan hilang dengan program ini. Batas kepemilikan lahan pun dibuat dengan patok.

Sukar juga menyebutkan jumlah petani di desanya sekitar 300 orang. Mereka terdiri dari 50 persen petani pemilik dan pengharapan lahan, 15 persen penyewaan musim, dan 35 persen petani penggarap yang tidak punya sawah.

"Karakter itu mempengaruhi modernisasi lahan dan yang paling susah adalah meyakinkan petani penyewa musiman," tuturnya.

Sekalipun nyaris seluruh alat pertanian dikerjakan dengan mesin, buruh tani tidak kehilangan pekerjaan. Pasalnya, pertanian modern justru meningkatkan intensitas panen.

Sebelum mengenal pertanian modern, panen biasanya setahun dua kali, dengan sistem baru mereka bisa memanen sebanyak lima kali dalam dua tahun.

Selain itu, sebagai petani juga beralih ke peternakan. Produktivitas sapi yang kotorannya digunakan sebagai kompos juga meningkat. Dalam kurun waktu tiga tahun jumlah sapi bertambah dari 20 menjadi 28 ekor.

Bentuk lain pertanian modern adalah integrasi. Puluhan rumah burung hantu dibuat di sawah. Burung hantu bisa mengusir hama tikus secara alami.

Pertanian modern yang diterapkan di Dalangan bisa meningkatkan produktivitas sampai 19 persen. Setiap meter persegi lahan bisa menghasilkan satu kilogram gabah kering panen, sebelumnya hanya berkisar tujuh ons per meter persegi.

Biaya produksi pun lebih efisien tujuhpersen. Sebelum menerapkan pertanian modern, mereka bisa menghabiskan Rp 2,5 juta untuk 4.000 meter persegi, akan tetapi saat ini berkurang menjadi Rp1,4 juta per meter persegi.

Pertanian modern di Dalangan juga sempat mengalami hambatan. Mesin tanam hanya tiga unit dan nampan pembibitan yang tersedia hanya cukup untuk dua hektare.

Petani tidak kehilangan akal. Mereka berinisiatif membuat nampan pembibitan dari kayu dan digunakan pada musim tanam (MT) II.

Rekomendasi Untuk Anda × +