Selasa, Agustus 14, 2018

Gempa Lombok, Jumlah Korban Meninggal 436 hingga Klarifikasi BMKG

Baca Juga

POTRET PERTANIAN - Pasca gempa yang mengguncang lombok bermagnitudo 7 di Lombok pada Minggu (5/8/2018), tim SAR gabungan masih melakukan pencarian korban yang diduga masih tertimbun longsoran di Dusun Busur Timur dan Dusun Rempek, Lombok Timur. Selain itu, jumlah korban meninggal dunia juga terus bertambah. Petugas mencatat korban meninggal hingga hari Minggu (12/8/2018) berjumlah 401 jiwa. Gempa juga mengakibatkan ratusan sekolah hancur. Para siswa di Lombok pun terpaksa bersekolah di tenda-tenda darurat. Berikut sejumlah fakta terbaru terkait bencana gempa bumi di Lombok.

Longsor terjadi di Dusun Busur Timur dan dan Dusun Rempek, Lombok Timur, akibat gempa pada hari Minggu (5/8/2018). Lima orang di kedua wilayah tersebut diduga tertimbun longsoran dan bangunan yang roboh. Hingga Senin (13/8/2018), tim SAR gabungan masih mencari lima korban tersebut. "Kami melanjutkan pencarian, Senin pagi ini, semoga membuahkan hasil, karena proses pencarian memang sulit mengingat kondisi tanah yang labil,” kata I Gusti Lanang, Humas SAR Mataram, kepada Kompas.com, Senin (13/8/2018). Dalam melakukan pencarian korban, para petugas menggunakan sejumlah peralatan, seperti combi tools, K12, chain saw, search cam, senter polarion, hidrolic pump, rescue cutting, karmantel, Alat Proteksi Diri (APD), slink, genset dan alkon serta anjing pelacak.

Hingga Senin (13/8/2018) tercatat 436 korban meninggal akibat gempa magnitudo 7 yang mengguncang Lombok, NTB. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis menyebutkan sebaran korban meninggal dunia berada di Kabupaten Lombok Utara 374 orang, Lombok Barat 37 orang, Kota Mataram 9 orang, Lombok Timur 12 orang, Lombok Tengah 2 orang dan Kota Lombok 2 orang. "Jumlah 436 orang meninggal dunia tersebut adalah korban yang sudah terdata oleh Kepala Desa dan babinsa. Korban yang sudah terverifikasi dan ada surat kematian di Dinas Dukcapil tercatat 259 orang. Sisanya dalam proses administrasi di Dinas Dukcapil msing-masing kabupaten. Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan roboh saat gempa," tulis Sutopo. Sementara itu, berdasar data dari Posko Tanggap Gempa Lombok pada 13/8/2018, pengungsi tercatat 352.793 orang. Sebaran pengungsi terdapat di Kabupaten Lombok Utara 137.182 orang, Lombok Barat 118.818 orang, Lombok Timur 78.368 orang, dan Kota Mataram 18.368 orang.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhadjir Effendy mengatakan, terdapat 553 sekolah yang rusak akibat gempa bermagnitudo 7,0 yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Minggu (5/8/2018) lalu. "Besok saya ke Lombok. Ada 553 sekolah yang rusak. Mulai dari ringan sampai berat," katanya saat menghadiri Pidato Kebangsaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Minggu (12/8/2018). Seluruh sekolah yang rusak akan dibangun kembali oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). "Solusinya, pembangunannya kemungkinan akan ditangani oleh Menteri PUPR," katanya. Untuk saat ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan fokus pada kegiatan belajar mengajar siswa yang terdampak gempa dengan mengirimkan 64 tenda darurat. "Untuk Dikbud sekarang ini pokoknya menjamin bagaimana supaya kegiatan belajar siswa tidak terganggu. Karena itu, ini yang pertama kita siapkan tenda darurat, ruang kelas darurat untuk belajar siswa," katanya.

BNPB mencatat hingga hari Minggu (12/8/2018) pukul 15.00 WITA terjadi 576 gempa susulan di wilayah NTB dan sekitarnya. Gempa susulan ini terjadi usai gempa besar bermagnitudo 7 pada Minggu (5/8/2018). "Intensitas gempa susulan kecil," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, kepada wartawan, Minggu (12/8/2018). Menurut Sutopo, diperkirakan gempa susulan ini masih akan terjadi hingga 4 minggu ke depan, dilansir dari Tribunnews, Minggu (12/8/2018).

Informasi menyesatkan terkait adanya energi gempa bermagnitudo 6,9 yang belum lepas di Lombok akhrinya dibantah oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada hari Senin (13/8/2018). "Informasi dalam laman Facebook tersebut bukan merupakan hasil kajian BMKG. Pemilik akun Facebook tersebut juga bukan pegawai BMKG," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono dalam keterangan resminya. Rakhmat menjelaskan, kajian di Facebook tersebut tidak menyebutkan sumber data yang digunakan dan metode analisis yang digunakan, sehingga BMKG tidak dapat menilai tingkat kebenaran dan akurasinya. Rakhmat berharap masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi-informasi yang tidak jelas sumbernya.

Sumber (KOMPAS.com: Fitri Rachmawati, Andi Hartik, Karnia Septia/ Tribunnews: Srihandriatmo Malau, Sugiyarto/ Antara: Desi Purnamawati).
Rekomendasi Untuk Anda × +