Senin, Agustus 20, 2018

Kementan Siapkan Strategi Hadapi Ancaman Kemarau

Baca Juga

POTRET PERTANIAN - Berbagai upaya dialkukan oleh kementerian pertanian Indonesia untuk terus menggenjot produksi pertanian, seperti langkah yang dilakukan oleh kementan dalam menghadapi Musim Kemarau yang sering melanda pada juli sampai september yang melanda sejumlah daerah pertanian di Indonesia, Strategi antisipasi kekeringan yang dilakukan oleh Kementan mencakup penanganan jangka pendek dan jangka panjang.

Penanganan Jangka Pendek yakni pertama, upaya pasokan air irigasi difokuskan dan diprioritaskan terhadap wilayah-wilayah yang berpotensi akan mengalami gagal panen.

Penentuan jadwal gilir giring yang sudah disusun di tingkat daerah diusahakan dilaksanakan secara ketat, dilakukan pengawalan dan sifatnya tidak terlalu kaku yang disesuaikan dengan tingkat kedaruratan kebutuhan lapangan.

Kedua, mendorong dan bersinergi dengan TNI dalam pelaksanaan piket petugas pada tiap lokasi bangunan bagi, untuk menghindari pengambilan air secara ilegal terutama pada saluran bagian hulu.

Ketiga, perlu untuk dilaksakan gotong royong antara masyarakat dan seluruh aparat untuk membersihkan sampah-sampah yang terdapat pada saluran irigasi.

Keempat, pemberian bantuan pompa air serta mengkoordinasikan optimalisasi pemanfaatan bantuan pompa air khususnya dari Kementerian Pertanian untuk penyelamatan tanaman yang letaknya dekat dengan sumber air oleh pemerintah daerah setempat. Tia/Ira/Ditjen PSP

Tak Boros Air

Sedangkan strategi penanganan jangka panjang meliputi, pertama yaitu bekerjasama dengan kementerian PUPR dalam kegiatan modernisasi/normalisasi saluran irigasi melalui kegiatan perbaikan infrastruktur bangunan irigasi, pengerukan sedimentasi serta dibuat sistem pengalokasian air yang lebih efisien, terukur dan transparan.

Kedua, berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam hal penajaman pengaturan terhadap pengalokasian air dan jadwal tanam padi serempak masing-masing wilayah pada tiap golongan pengairan, sehingga kegiatan pengalokasian air dapat dilaksanakan secara efektif pada wilayah sawah di bagian hulu maupun hilir sistem irigasi.

Ketiga, melakukan sosialisasi dan penyuluhan secara intensif dalam hal penumbuhan kembali kearifan lokal untuk kebersamaan dan gotong royong dalam operasi dan pengaturan air, pemeliharaan saluran irigasi yang disinergikan dengan program pemerintah.

“Konsep penanganan terhadap kekeringan selama ini belum mengacu kepada early warning system atau upaya peringatan dini yang memberi peringatan kepada semua pihak terhadap ancaman kekeringan,” katanya.

Ia juga meminta para petani untuk tidak boros dalam penggunaan air. ”Tidak perlu membanjiri sawah. Air cukup macak-macak atau maksimal 1 cm dari permukaan,” tegasnya.

Rahmanto menekankan, kedepan langkah-langkah antisipasi yang telah terumuskan secara spesifik menurut kondisi masing-masing daerah perlu dilakukan sebelum bencana kekeringan tersebut benar-benar terjadi. Kunci keberhasilan penanganannya adalah koordinasi yang sebaik-baiknya diantara instansi terkait yang tugas, fungsi dan kewenangannya dapat mendukung upaya antisipasi kekeringan. Tia/Ira/Ditjen PSP
Rekomendasi Untuk Anda × +