Rabu, Agustus 01, 2018

Petani Brebes Minta Jangan Impor Bawang Merah Lagi

Baca Juga

Poto Dokumen Tribunnews.com/Chaerul Umam
POTRET PERTANIAN -  Kabupaten Brebes yang merupakan daerah penghasil sayur-sayuran, terutama bawang merah. Daerah ini merupakan sentra produksi bawang merah tingkat nasional. Kecamatan andalan untuk produksi bawang merah ini adalah Larangan, Wanasari, Brebes, Bulakamba, dan Jatibarang. Kelima kecamatan tersebut cocok disebut dan dijadikan sebagai klaster bawang merah. 

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menghadiri panen raya bawang merah dan turun ke sawah untuk langsung memanen bawang merah di Desa Jagalempeni, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Rabu (1/8/2018).

Dilansir dari halaman Sinar Tani, Sejumlah petani merasa bersukur atas membaiknya Harga bawang merah di tingkat petani. Seperti yang dirasakan oleh petani bawang merah di Brebes, Jawa Tengah.

Baca Juga : Mentan Ekspor Bawang Merah 5.600 Ton ke Thailand

"Sekarang Alhamdulilah harga naik, bisa bayar hutang," ungkap salah satu petani Desa Jagalempi, Kecamatan Wanasari Kab Brebes Sugiono saat Menteri Pertanian, Amran Sulaiman panen bawang merah disana.

Untuk diketahui, harga bawang merah di desa tersebut mencapai Rp 15 ribu per kilogramnya. Harga tersebut naik 2 kali lipat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang hanya Rp 7 ribu-8 ribu per kilogramnya. 

Pendapat serupa juga diungkapkan oleh penyuluh pertanian Desa Jagalempi,  S. Joko Prabowo. Menurutnya harga di tingkat petani tengah membaik dan bervariasi. "Harga bisa Rp 17 ribu per kg basah. Kalau kering bisa dapat Rp 19 ribu per kilogram. Rata-ratanya Rp 15 ribu per kg," tuturnya.

Desa Jagalempi sendiri termasuk areal luas yang ditanami bawang merah di Kabupaten Brebes. Sekitar 150 ha dari 210 ha lahan yang tersedia, ditanami oleh bawang merah. "Petani mulai tanam bawang merah sejak 80an. Pertanaman bawang merah seperti bayi merawatnya harus intensif. Terutama penyakit. tapi mereka sudah paham caranya. sudah bisa melakukan tindakan pengendalian," tuturnya.

Joko menuturkan produktivitas bawang merah di desanya tergolong tinggi karena bisa mencapai 12-14 ton per hektar. Namun rata-ratanya kurang lebih 10 ton per hektar. "Varietasnya Bima Brebes," tuturnya.

Mengenai pasar, Joko menuturkan petani biasanya telah memiliki jaringan pengepul selain mempergunakan sebagiannya untuk bibit.  "Biasanya memang sudah dijual ke penebas. Pedagang besar. Bisa dipasarkan disini. Bisa juga sampai Jakarta bahkan diekspor," cerita Joko.

Impor Jangan Masuk

Selain harga yang sangat baik saat ini, petani Brebes juga meminta agar jangan impor bawang merah lagi"Bawang Kab Brebes sebenarnya mencukupi pak. Ke utara misalnya bawang ini bagus pak. Makanya jangan impor. Tolong hargai kami. Tolonglah," pinta mereka.

Bahkan mereka meminta agar Bulog bisa turun gunung untuk bisa membeli hasil panen mereka, tak hanya saat harga turun maupun sedang baik.

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman sendiri mengapresiasi curhatan petani tersebut. Bahkan dirinya pun sempat bersalaman dengan petani yang sepakat untuk hentikan impor. "Produksi kita naik 2 kali lipat. Kita mati-matian naikkan produksi tapi kalau ada yang main-main (buka) impor. Kita marah," ujarnya geram.

Apalagi jika terjadi seperti peristiwa masuknya bawang bombay mini dijual menjadi bawang merah dengan harga murah. "Kita sudah blacklist mereka. Gak boleh beroperasi lagi," tukas Amran.

Dirut Bulog, Budi Waseso yang juga hadir menegaskan pihaknya akan mengunci impor bersama-sama Kementerian Pertanian melalui Menteri Amran.  "Bulog sendiri sudah dua kali beli bawang petani. Bahkan sudah deal dengan Bupati untuk tempat pengawetan bawang merah," tukas Buwas. (gsh).
Rekomendasi Untuk Anda × +