Kamis, Agustus 30, 2018

Petani Keramba Ikan Danau Toba Merugi Miliaran Rupiah

Baca Juga


POTRET PERTANIAN - Petani Pembudidaya ikan keramba jaring apung (KJA) di Danau Toba kembali dilanda musibah. Sekitar 180 ton ikan yang dibudidaya di KJA tersebut mati. Diduga, kematian massal ikan yang dibudidaya tersebut dikarenakan  upwelling (umbalan) yang dipicu oleh cuaca ekstrim di kawasan danau tersebut. Kerugian pun ditaksir mencapai Rp 2,7 Milyar.

Untuk menindaklanjuti fenomena kematian massal ikan itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti baru-baru ini menginstruksikan untuk menerjunkan Tim Satuan Tugas Penanganan Penyakit Ikan dan Lingkungan.

Pembudidaya ikan keramba jaring apung (KJA) di Danau Toba kembali dilanda musibah. Sekitar 180 ton ikan yang dibudidaya di KJA tersebut mati. Diduga, kematian massal ikan yang dibudidaya tersebut dikarenakan  upwelling (umbalan) yang dipicu oleh cuaca ekstrim di kawasan danau tersebut. Kerugian pun ditaksir mencapai Rp 2,7 Milyar.

Tim Satgas tersebut terdiri dari para ahli perikanan budidaya air tawar dan Balai Karantina Ikan, Medan.

Berdasarkan siaran pers resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Rabu (29/8/2018), Tim Satgas bertugas untuk mengidentifikasi sekaligus memetakan penyebab teknis dan sumber dampak kematian massal ikan.

Tim juga memberikan rekomendasi agar persoalan itu selesai.

Anggota Tim Satgas Ahmad Jauhari menjelaskan, berdasarkan monitoring dan penelitian kualitas perairan danau, setidaknya ada tiga dugaan penyebab kematian massal ikan.

Anggota Tim Satgas Ahmad Jauhari menjelaskan, berdasarkan monitoring dan penelitian kualitas perairan danau, setidaknya ada tiga dugaan penyebab kematian massal ikan.

Pertama, terjadi penurunan suplai oksigen bagi ikan.

Kedua, kepadatan ikan yang tinggi dan ketiga, keramba jaring apung terlalu dangkal, sementara dasar perairan merupakan lumpur.

Jauhari melanjutkan, suplai oksigen tersebut menurun karena terjadi 'upwelling' (umbalan) atau pergerakkan material di dasar air ke permukaan.

Fenomena 'upwelling' itu sendiri disebabkan cuaca ekstrem yang berakibat perbedaan suhu mencolok antara air di permukaan dan di bawahnya.

"Jadi, 'upwelling' membawa nutrient dan partikel dari dasar perairan ke permukaan. Inilah yang menyebabkan pasokan oksigen untuk ikan menjadi berkurang. Apalagi lokasi keramba jaring apung nelayan itu cukup dangkal dan berlumpur," papar Jauhari.

"Selain itu, kami juga melihat ternyata kepadatan ikan dalam keramba jaring apung terlalu tinggi sehingga sangat mengganggu sirkulasi oksigen," lanjut dia.

Tim Satgas merekomendasikan agar masyarakat menghentikan aktivitas di keramba jaring apung untuk sementara waktu, setidaknya selama dua bulan ke depan.

Penghentian aktivitas ini demi menunggu recovery perairan agar kondisinya seperti semula.(*)
Rekomendasi Untuk Anda × +