Senin, Agustus 13, 2018

Petani Purwakarta Optimalkan Penggunaan Alsintan Untuk Tingkatkan Produksi Pertanian

Baca Juga

POTRET PERTANIAN - Alsintan atau alat mesin pertanian adalah sebutan untuk semua alat dan mesin yang digunakan dalam usaha bidang pertanian. Alsintan ini mutlak sangat dibutuhkan dalam pembangunan pertanian. Peningkatan teknologi tepat guna melalui alsintan ini sangat dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi pertanian.

Peran alsintan dalam pengembangan pertanian tidak hanya sebatas pada proses budidaya dan pascapanen, tapi juga bagi upaya pengembangan proses hasil panen menjadi aneka produk pangan tambahan. Alsintan secara tidak langsung menjadi pemacu transformasi teknologi kepada petani menuju pertanian yang lebih modern, efektif, dan ramah lingkungan mulai dari hulu sampai hilir sehingga tidak hanya meningkatkan produksi, akan tetapi kesejahteraan petani.

Penerapan alsintan diharapkan dapat memecahkan masalah kekurangan tenaga kerja yang dibutuhkan dalam usahatani, baik saat secara on-farm, panen (harvesting) maupun pascapanen (off-farm), menekan ongkos produksi, menekan kehilangan hasil menuju efisiensi usahatani sehingga meningkatkan pendapatan petani. Berkenaan dengan efektivitas dan efisiensi alsintan ini, sangat perlu diperhatikan ketepatan alokasi alsintan sesuai kondisi lahan (the right machine on the right land).

Di Kabupaten Purwakarta para petani memanfaatkan alat mesin pertanian mulai dari pengolahan tanah, panen dan penyediaan air (pompa air) secara optimal. Petani Purwakarta menyadari saat ini mesin pertanian menjadi hal yang cukup penting dalam mengelola usahatani ditengah berkurangnya tenaga kerja pertanian karena kecenderungannya tenaga-tenaga muda potensial di Purwakarta lebih memilih bekerja di pabrik.   Optimalnya penggunaan alat mesin pertanian oleh petani juga tidak terlepas dari motivasi dan dorongan yang diberikan oleh para penyuluh pertanian, koordinator penyuluh pertanian, dan Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta yang aktif dalam melakukan pembinaan dan penyuluhan terkait dengan optimalisasi pemanfaatan alat mesin pertanian.

Data menunjukkan bahwa porsi rumah tangga usaha pertanian berdasarkan kelompok umur petani, usia di atas 54, 35-54 dan kurang dari 35 tahun, secara berturut turut adalah 32,76%, 54,37%, dan 12,87%. Data tersebut menginformasikan bahwa sebagian besar petani di Indonesia berusia lanjut. Jika dibandingkan antara petani berusia lanjut dengan petani muda maka petani berusia lanjut tidak dapat diimbangi oleh petani muda (32,76 persen berbanding 12,87 persen).  Kedua, persentase rumah tangga petani telah menurun 15 persen dalam kurun waktu 10 tahun. Tahun 2003 porsi rumah tangga petani 55,73 persen (BPS 2003) menurun menjadi 40,81 persen pada 2013 (BPS 2013). Untuk kondisi tersebut, analisis terhadap data BPS yang telah diuraikan diatas bila tidak disikapi serius  maka bisa jadi porsi petani di Indonesia akan terus menurun. Ketiga, generasi muda memiliki minat yang rendah untuk beraktivitas pada bidang pertanian. 

Yoyon Haryanto, Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Kelembagaan Petani pada saat evaluasi pemanfaatan alsin di Kabupaten Purwakarta  pada Jum’at 10 Agustus 2018 mengatakan bahwa peran alat mesin pertanian saat ini perlu dioptimalkan sebagai prasyarat majunya pembangunan pertanian di era modern saat ini, namun dengan tetap memperhatikan konsepsi pengembangan mekanisasi yang didasarkan pada dua pendekatan, yaitu pendekatan wilayah dan pendekatan teknologi. Keduanya harus diselaraskan dengan tujuan pembangunan pertanian sehingga konsep mekanisasi selektif benar-benar dapat dilaksanakan dengan tepat. “Selain itu, pelibatan Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) sebagai bentuk rekayasa sosial dalam mengelola dan mendorong pemanfaatan alat mesin pertanian oleh petani juga menjadi alternatif untuk memacu optimalisasi penggunaan alat mesin pertanian dalam setiap tahap proses budidaya yang dilaksanakan oleh petani” tegas Yoyon.
Rekomendasi Untuk Anda × +