Sabtu, September 29, 2018

Jagung Unyil Desa Semawung

Baca Juga


POTRET PERTANIAN - Jagung Unyil Desa Semawung, Masih Ingat dengan film boneka pada masa tahun 90-an, Buat yang sekarang sudah berumur 30 tahun ketas pastinya masih ingat dengan film yang tayang setiap hari minggu. tapi kali ini saya tidak membahas film unyil tersebut, tapi karena nama tokoh film ini digunakan pada sebuah komoditi pertanian jagung yang menarim saya untuk mengabarkan dan membagikan informasi tenang jagung unyil ini.

Jagung merupakan salah satu komoditas pertanian terbesar kedua setelah padi yang banyak ditanam masyarakat Boyolali termasuk di Desa Semawung, Kecamatan Ampel.

Berbagai komoditas jagung ditanam di Desa Semawung. Salah satun yang paling populer adalah jagung unyil. Jagung unyil  mudah dibudidayakan, hasilnya bagus, dan mudah dipasarkan. Salah seorang petani Desa Semawung, Rubiyem, mengaku telah membudidayakan jagung unyil sejak 30 tahun terakhir. Dia menanam jagung unyil bergilir dengan musim tanam padi.

“Saya sudah lama membudidayakan jagung unyil, sudah sekitar 30 tahun.Wong saya bertani sejak menikah,” terang wanita empat puluh tiga tahun tersebut.

Rubiyem dapat menanam tiga kilogram benih jagung unyil diatas lahan seluas 250 meter persegi. Sebelum ditanami, tanah harus diratakan terlebih dahulu lalu dibuat pematang untuk menanam. Setelah tanah selesai dioleh, bibit jagung baru bias ditanam. Rubiyem mengatakan tanaman jagung unyil relatif mudah tumbuh dan tidak memerlukan perawatan khusus. Tanaman ini juga tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Jagung unyil memerlukan waktu pertumbuhan 2,5 bulan sebelum dipanen.

“Tinggal ditanam saja. Biasanya langsung tumbuh. Pemupukan pun standar, hanya memakai pupuk kompos sudah bisa tumbuh,” imbuh dia. Panen raya jagung unyil biasa dilakukan pada Mei hingga Agustus. Dalam sekali panen, Rubiyem bisa menghasilan 1,5 kuintal jagung unyil.

Jagung unyil tidak bisa langsung dijual setelah dipanen. Petani harus lebih dulu membersihkan kotoran yang menempel di jagung lalu memipil biji jagung sebelum menjual hasil panen mereka ke tengkulak. Jagung unyil kristal dijual seharga enam ribu lima ratus rupiah per kilogram, sedangkan biji jagung unyil biasa dibanderol dengan harga lima ribu rupiah.

Petani tidak menjual semua hasil panen ke tengkulak. Mereka biasanya menyimpan sebagian hasil panen untuk dijadikan bibit dan ditanam kembali di musim tanam berikutnya. Ini menjadi upaya penghematan biaya produksi karena bibit jagung yang dijual di toko pertanian mahal. Benih jagung di toko pertanian mencapai enam ribu rupiah per kilogram.

Kendala utama pengembangan pertanian jagung unyil adalah musim dan luas lahan yang tersedia. Rubiyem hanya bisa menanam jagung pada musim penghujan atau jika ketersediaan air untuk irigasi mencukupi. Selama ini Rubiyem juga bercocok tanam dengan mengontrak tanah atau sistem maro. Oleh sebab itu, Rubiyem harus membagi hasil panen dengan pemilik tanah. Rubiyem juga harus mengeluarkan biaya hingga tiga juta rupiah untuk menyewa lahan seluas seperempat hektare. “Tanah masih mengontrak. Untungnya pun tidak seberapa meskipun digabung dengan bertanam padi. Rata-rata untung sekitar dua juta per musim tanam. Soalnya mengontraknya juga per musim tanam,” kata dia.

Sumber : semawung.desa.id
Rekomendasi Untuk Anda × +