Kamis, September 13, 2018

Jangan Sia - siakan Hidup Kita Hanya Untuk saling Mencaci

Baca Juga

POTRET PERTANIAN - Pilpres 2019 yang diikuti oleh dua pasang calon ini tinggal menghitung bulan lagi, Atmosfir politik sudah mulai memanas dari mulaia akar rumput, dimedia sosial bahkan taksedikit menjadi ajang perdebatan untuk mempertahankan dan menunjukan siapa-siapa yang pantas untuk menjadi pemimpin Indonesia mendatang, tak jarang saling mencaci - maki, serta banyak bahasa-bahasa aneh keluar, Misalkan, Kecebong, Kampret dan lain sebagainya.

Miris melihat dan membaca hal yang seperti itu, Bisa dibilang pengguna media sosial tentunya bukan sekedar orang yang bodo, Lah buktinya bisa menggunkan medsos, akan tetapi jauh mendiskripsikan penggunanya adalah orang yang berpendidikan, bukatinya keluar bahasa-bahasa yang tak pantas untuk dipublikasikan.

Memang tidak dipungkiri, peran media sosial saat ini sangat penting untuk menyosialisasikan pasangan capres-cawapres yang akan berlaga pada pilpres mendatang,  Memang sosialisasi ini tidak dilakukan langsung pasangan ini, tapi melalui pendukung-pendukungnya dengan membuat Funpage-funpage yang bisa dibuat oleh siapa saja dan kapan saja oleh penggunanya.

Tentu Pilpres tahun 2014 silam masih terasa hingga saat ini, kala itu Jokowi disebutkan tidak bisa salat dan mengaji.Capres yang didukung PDIP, Nasdem, PKB, Hanura dan PKPI tersebut membuktikan diri bisa melaksanakan salat. Sampai-sampai Ketua MUI Din Syamsuddin pun terkesima hafalan surat yang dibaca kala menjadi imam. 

Begitu juga dengan isu tentang kewarganegaraan Prabowo Subianto yang disebutkan sudah menjadi warga negara Yordania. Kenyataannya tidak. KPU member penjelasan bahwa Prabowo Subianto merupakan Warga Negara Indonesia  (WNI).

Melihat tingkah laku pendukung pasangan capres, rasanya takpantas untuk disimak, karena sudah tidak lagi sehat dan santun. Yang ada hanyalah masing-masing pendukung mengedepankan emosi, karena capres yang mereka dukung mendapat serangan-serangan (black campaign).

Sepertinya kita mulai kehilangan jati diri sebagai bangsa, bukankah kita memilih pemimpin untuk membangun bangsa ini, membangun negeri ini, Lalu bagaimana negeri ini bisa menjadi negeri yang besar, bangsa yang besar jika kita masarakatnya mulai kehilangan kearifan bangsa kita sendiri, Bukankan Indonesia terkenal dengan kearifannya, apakah itu tinggal cerita para Turis dari Luar negeri yang berkunjung di negeri ini.

Oh... Tidak Kita tetap bangsa yang arif, kita hanya terbawa suasana saat salah satu pasangan yang kita dukung di serang atau diremehkan, Maka dari itu mari kita kembali kefitrah bangsa Indonesia, Fitrah bangsa yang terlahir Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Beradap, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam permusawaratan Perwkilan, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, Yang dibingkai dengan Bhineka Tunggal Ikha.

Mari kita bersama kendalikan diri, Tenangkan hati, jangan terpancing oleh provokasi yang hanya akan membuat emosi, hadapi dan tanggapi semua dengan ketengan jiwa, kebesaran jiwa, Menang kalah itu pilihan, siapapun presiden nantinya yang pasti mereka putra terbaik bangsa yang punya cita-cita mulia membangun Indonesia lebih baik lagi.

Ingat Sebagai Manusia kita diciptakan untuk saling mencintai dan menyayangi, bukankah kita juga tidak lama hidup didunia ini, maka dari itu jangan Sia-siakan Hidup kita hanya untuk saling Mencaci, 

#Jokowi2Periode atau #2019GantiPresiden Biarkan menjadi tagar bagi pendukung calon kita masing-masing sebagai bukti peduli kita terhadap bangsa dan negara yang kita cintai.(Pras)


Rekomendasi Untuk Anda × +

2 comments

dan jangan sampai pemilihan presiden memecah belahkan kita sesama pendukungnya..:) cinta damai

Benar sekali mas Rizal, mari kita jaga keutuhan bangsa dan negara ini dengan menjungjung tinggi nilai nilai kebinekaan tunggal ika