Selasa, September 04, 2018

Penyelundupan 154 Ekor Burung Berkicau dari Kumai, Kalimantan Tengah Berhasil Digagalkan

Baca Juga

POTRET PERTANIAN - Penyelundupan 154 Ekor Burung Berkicau dari Kumai, Kalimantan Tengah Berhasil Digagalkan, Burung berkicau merupakan salah satu hewan kesayangan yang cukup diminati masyarakat, ini ditandai dengan maraknya komunitas burung berkicau di Indonesia misalnya Kicau Mania dan lain sebagainya. Namun sayangnya masih banyak peredaran/perdagangan burung berkicau secara illegal di tengah masyarakat khususnya di Surabaya. Perdagangan illegal selain melanggar hukum juga membawa risiko menyebarkan penyakit flu burung dan penyakit lainnya ke daerah tujuan.

Karena itu Badan Karantina Pertanian (Barantan) melalui Balai Karantina di pintu-pintu pemasukan maupun pengeluaran di stasiun, bandara maupun perbatasan antar negara selalu memperketat penjagaan.

Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu atau tepatnya tanggal 27 Agustus 2018, Petugas Karantina Surabaya bersama dengan Kepolisian Tanjung Perak berhasil menggagalkan penyelundupan 154 ekor burung berkicau dari Kumai, Kalimantan Tengah yang menumpang Kapal Satya Kencana 3 di Pelabuhan Zamrud, Tanjung Perak, Surabaya. Penggagalan tersebut berawal berkat informasi dari masyarakat yang mensinyalir adanya burung-burung illegal dalam Kapal dimaksud.

Adapun jenis burung yang berhasil digagalkan masuk adalah Murai Batu (53 ekor), Cucak Hijau: (60 ekor), Cucak Jenggot: (3 ekor) dan Tledekan: (38 ekor) semuanya dalam keadaan hidup pada saat ditemukan, namun sore harinya ada 1 (satu) ekor burung yang mati yaitu jenis Cucak Jenggot.

Modus yang digunakan pelaku adalah dengan memasukkan burung-burung tersebut dalam kotak kardus/kotak buah dan disembuyikan di kolong truk” ujar Petugas Karantina yang turut memeriksa ke dalam kapal, drh Oky Mahendra.

Selanjutnya burung berkicau tersebut diamankan dan ditahan di kantor karantina wilker Tanjung Perak sambil menunggu pemilik melengkapi dokumen yang dipersyaratkan.

Penahanan tersebut sesuai dengan pasal 6 dalam UU No. 16 Tahun 1992 yang menyatakan bahwa melalulintaskan burung dari satu area ke area lain di Indonesia harus dilengkapi dengan sertifikat kesehatan dari daerah asal, melalui tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran yang telah ditetapkan, serta dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina setempat.
Rekomendasi Untuk Anda × +