Rabu, Oktober 03, 2018

Export Perdana Manggis Dari Ranah Minang Ke Negeri China

Baca Juga

POTRET PERTANIAN - Export Perdana Manggis Dari Ranah Minang Ke Negeri China, Target Kementerian Pertanian (Kementan) untuk meningkatkan volume ekspor berbagai komoditas pangan guna mengerek pertumbuhan ekonomi nasional dan menguatkan nilai tukar rupiah semakin terbukti. Kini giliran manggis dari Ranah Minang yang dilempar ke pasar China.

Ekspor manggis dari Indonesia untuk pasar China memang baru aktif kembali semenjak terganjal di tahun 2016 silam. Tercatat, ekspor tahun 2017 hanya mencapai 9.167 ton. Untuk tahun 2018 ini, diprediksikan mencapai 60.000 ton atau naik 553 persen dari 2017. Total ekspor di tahun 2018 inipun hanya sebanyak 38 persen dari jumlah produksi manggis nasional sebesar 166.725 ton.

"Kita sekarang ekspor perdana dari Ranah Minang ke China sebanyak 10 ribu ton," ungkap Menteri Pertanian, Amran Sulaiman saat melepas langsung ekspor manggis di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Selasa (2/10). Dalam kegiatan tersebut juga dihadiri Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abdi, Anggota DPD RI Ema Yohana, Bupati Lima Puluh Kota,Irfendi Arbi, Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat Candra, dan eksportir manggis.

Menariknya, ekspor manggis dari Kabupaten Lima Puluh Kota ini merupakan rekor perdana yang dilakukan eksportir dari Sumatera Barat. "Hari ini kita buktikan, berkat kemajuan teknologi yang kita hasilkan sendiri, kita tingkatkan lagi ekspor. Ekspor komoditas hortikultura ke berbagai negara,” tegas Menteri Amran.

Menurutnya, sentra produksi manggis di Indonesia tersebar dari Sumatera sampai Nusa Tenggara Barat. Di tahun 2017, produksi manggis Sumatera Barat mencapai 34.422 ton atau 21 persen

dari produksi nasional 161.751 ton. Sumatera Barat menjadi sentra manggis terbesar nomor 2 setelah Jawa Barat yang produksinya 42.122 ton atau 26 persen dari produksi nasional.

Adapun produksi manggis se-Sumatera di tahun 2017 mencapai 65.372 ton atau 40 persen dari produksi nasional. Untuk 2018, prognosa produksi manggis sebesar 166.725 ton, naik 3 persen dari 2017.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Suwandi menambahkan proses ekspor manggis ini tidak instant, sehingga melalui proses mulai dari penyiapan kebunnya, registrasi dan penyiapan packaging house, serta pengurusan perizinan ekspor dan sebagainya. Ekspor manggis ini terwujud karena semakin eratnya hubungan bilateral Indonesia-China sehingga memberikan dampak positif bagi perdagangan kedua negara. Yakni dibukanya kembali peluang ekspor manggis ke Negeri Panda tersebut setelah empat tahun sejak dikeluarkannya larangan impor komoditas manggis dari Indonesia.

“Dibukanya kembali ekspor manggis ke China ditandai dengan penandatanganan protokol manggis oleh badan karantina kedua negara pada 11 Desember 2017 yang disusul dengan ekspor perdana 1 ton manggis pada Januari 2018,” jelas Suwandi.

Tercatat, berdasarkan data BPS, nilai ekspor manggis ke China pada tahun 2012 mencapai 8.200 ton dengan pangsa pasar 18,84 persen dan menjadikan China sebagai pasar ekspor manggis terbesar Indonesia.

“Karenanya, untuk meningkatkan investasi dan ekspor, termasuk mendorong ekspor manggis dari Sumbar, Kementan memberi berbagai kemudahan investasi, pembinaan mutu produk petani, membantu proses registasi kebun, standar packaging house,  pelayanan perkarantinaan dan lainnya untuk ekspor,” tambah Suwandi.

Masifkan Ekspor

Melihat peluang menambang dollar dari kegiatan ekspor dan melimpahnya beragam komoditi pertanian, Amran menghimbau untuk melakukan gerakan masif ekspor dan investasi agar pertumbuhan ekonomi nasional semakin membaik. Sebab, sektor pertanian salah satu penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan data BPS, ekspor pertanian 2017 totalnya Rp 442 triliun, naik 24 persen dibanding 2016, sehingga neraca perdagangan pertanian 2017 surplus Rp 214 triliun. Ekspor komoditas hortikultura segar Januari sampe Juli 2018 sebesar Rp 1,3 triliun, naik 60,5 persen dari Januari sampai Juli 2017 yang hanya Rp 0,76 triliun.

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abid mengapreasisi tekad Kementan melalui Direktorat Hortikultura menjadikan buah manggis sebagai komoditas unggulan tropis. Karenanya, hal ini harus di follow up secara serius oleh pemerintah daerah sebagai penentu kebijakan ditingkat daerah.

Menurutnya, tekat Kementan tercermin pada telah ditetapkannya road map pengembangan tanaman manggis yang disertai dengan kebijakan dengan menetapkan arah dan pola pengembangan tanaman manggis yang jelas dan didukung pembinaan sumberdaya manusia baik petani sebagai pelaku utama maupun aparat sebagai penunjang.

“Untuk Sumatera Barat telah ditetapkan 8 daerah Kabupaten/Kota sebagai daerah kawasan manggis yang telah diperkuat dari Surat Keputusan Gubernur Nomor 521.305.2013 tanggal 26 Maret 2013 tentang Penetapan Kawasan Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura yaitu Kabupaten Limapuluh Kota, Tanah Datar, Solok Selatan, Pesisir Selatan, Sijunjung, Padang Pariaman, Agam, dan Kota Padang,” sebut Nasrul.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus mendorong ekspor komoditas pangan khususnya manggis ke berbagai negara. Untuk suksesnya ekspor buah-buahan, beberapa kegiatan atau perlakuan yang perlu diperhatikan dengan baik, seperti pengeringan, penyortiran dan pengolahan hasil sehingga komoditas yang diekspor tidak rusak mutunya.

“Kebanyakan dari petani kita masih kurang mengetahui pentingnya kegiatan penanganan atau pengelolaan lepas panen sehingga hasil panen yang dapat dianggap baik. Untuk itu perlu peningkatan Sumberdaya Manusia baik petani maupun petugas dalam penanganan dan pengelolaan tanaman agar diperoleh hasil dan produksi yang baik hingga pasca panen,” tutur Nasrul.

Bupati Lima Puluh Kota, Irfendi Arbi mengatakan ekspor manggis ini menunjukkan Kabupaten Lima Puluh Kota turut andil memberikan tambahan devisa. Namun demikian, ekspor manggis pun merupakan bagian dari keberhasilan Kementan yang sangat serius mendorong dan membina petani dan pelaku usaha, sehingga manggis bisa tembus pasar China.

Pernyataan tersebut juga dibenarkan oleh Eksportir manggis yang diwakili Direktur Kerjasama Antar Lembaga PT. Bumi Alam Sumatera, Anggri Purnama Agung, dan Muhamad Bayu Vesky yang mengungkapkan Kementan sangat serius mendorong ekspor pangan khusus manggis. Hal ini terbukti dari pembinaan petani hingga pengurusan izin ekspor yang begitu cepat yakni hanya membutuhkan waktu 38 hari dengan 2 kali pengiriman ke China.

“Kami akan beli buah dari petani dengan standar yang tinggi. Kami siap menjadikan kebun manggis terbesar di dunia. Kami yakin kalau produksi manggis Sumatera Barat 38 ribu ton per tahun, separuhnya layak,” imbuhnya.

Perlu diketahui, selain Sumantera Barat, daerah sentra produksi manggis yakni Bali dan Jawa Barat. Kedua daerah telah rutin mengekspor manggis ke China dan berbagai negara.
Rekomendasi Untuk Anda × +