Minggu, Oktober 07, 2018

HPS Ke-38, Momen Eksistensi Indonesia Dalam Optimasi Lahan Rawa

Baca Juga

POTRET PERTANIAN - HPS Ke-38, Momen Eksistensi Indonesia Dalam Optimasi Lahan RawaBertempat di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Sekertaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro mengecek langsung kesiapan penyelenggaraan Hari Pangan Sedunia ke-38. Ratusan Hektar lahan yang beberapa bulan sebelumnya merupakan lahan rawa yang tidak termaanfaatkan telah disulap menjadi areal persawahan yang lebih produktif dari sisi keekonomian masyarakat.

Syukur terlihat turun langsung menyusuri petakan-petakan areal persawahan yang telah tertanami padi. Hampir 100% areal lahan rawa yang telah dimanipulasi ini sudah tertanami padi dan siap panen, bahkan ada yang terlihat telah dipanen.

Pengelolaan air merupakan kunci keberhasilan dalam budidaya pertanian di lahan rawa pasang surut. Penyiapan lahan padi pada sawah pasang surut sangat berbeda dengan lahan sawah irigasi. Irigasi. Irigasi tersier atau handil yang dibangun di area HPS Kecamatan Jejangkit menjadi kunci pengelolaan air di areal persawahan lahan rawa. Selain tanaman padi, Syukur menginginkan beberapa area yang masih kosong lebih bisa dimanfaatkan lagi dengan tanaman seperti jagung dan tanaman hortikultura, ditambah dengan adanya penambahan berbagai ikan endemik yang disebar di irigasi tersier serta bantuan itik alabio dapat membentuk ekosistem baru yang menguntungkan bagi masyarakat sekitar.

Sebelumnya, di tempat terpisah, di arela Kantor Gubernur Kalimantan Selatan. Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Pending Dadih memimpin Rapat Pleno persiapan HPS ke-38. Pending Dadih memastikan bahwa para petani tidak perlu khawatir dengan keberlanjutan areal sawah baru yang digunakan untuk penyelenggaraan HPS kali ini. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian memastikan akan ada pendampingan selama tiga tahun kepada para petani pasca HPS sampai korporasi petani terjadi di wilayah tersebut.

"Korporasi akan terjadi disitu, dikawal dari aspek teknis, dikawal dari aspek menejerial dan aspek bisnisnya, dikawal terkait penguatan kelembagaannya. Karena ini titik kunci keberlanjutan penganganan lahan (rawa) ini", jelas Pending Dadih. Pengelolaan nanti mengedepankan aspek mekanisasi. Yang lebih kemprehensif lagi, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal telah melakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan Rice Miling Unit (RMU) di kawasan tersebut.

Dalam pengawan nanti, Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Perhimpunan Teknik Pertanian (Perteta).

Kepala Badan Ketahanan Pangan sekaligus Ketua Panitia Pusat Hari Pangan Sedunia tahun sebelumnya, Agung Hendriadi yang turut hadir dalam rapat tersebut menyapaikan tujuan HPS kali ini. "Kita ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kita mampu mengelola lahan rawa, lahan lebak, lahan gambut dengan baik", jelas Agung.

Dari laporan yang telah dihimpun, kesiapan HPS terbilang hampir 100 persen dan tinggal menambahkan beberapa aspek yang kurang. Penyiapan area Gelar Teknologi Pertanian juga sudah mencapai 80% yang di targetkan. Diharapkan persiapan pelaksanaan HPS dapat berjalan sesuai rencana yang diharapkan sehingga pemanfaatan lahan rawa di Indonesia yang telah dilakukan dengan baik dapat tersosialisasi dengan baik juga kepenjuru belahan dunia.
Rekomendasi Untuk Anda × +