Minggu, Oktober 28, 2018

Dari Sepenggal Malam, Catatan Suatu Masa Tentang Kita

Baca Juga

Songgo Langit - Catatan dari Sepnggal Malam

Kala senja disuatu masa
Sebelum perlahan gelap malam menutup hari dalam sunyi
Seperti daun yang mulai mengering
Tiba-tiba ditiup badai yang serta merta datang
Yang melepaskan tangkai dari dahan
Untuk kemudian terjatuh
Dan hilang
Terbang terbawa badai entah kemana

Kala senja disaat ini yang tak lagi tentram
Dalam kekangan rasa sedih yang mendekap sesak
Seperti kerinduan yang tak lagi seharusnya
Akan suatu masa tentang kita
Suatu masa yang serta merta
Suatu masa yang pada akhirnya telah menjadi tak sempurna

Haruskah kita dendangkan tentang lirih sunyi pada senja ini?
Atau melangkah saja menjauh pergi...

Hari yang terus merangkak senja meninggalkan cerita - cerita yang mungkin esok takan terulang kembali, Mentari menguning diujung barat mencium kaki langit pertanda akan segara merebahkan diri kala gelap membentang selimuti malam.

Malam selalu membawa pada kesendirian kesadaran yang menjamah eksistensi raga, Aroma kesunyian terus mengintai sepi malam berarak bintang dan gemawan yg hilir mudik sepanjang jaga.
sendiri kata, sendiri dengar, sendiri rasa, semakin melumpuhkan keramaian jagat raya yang terbangun sepanjang baka.

Aku yang duduk terdiam, menatap diriku yang terpaku di lubuk jiwa tak bersuara, menikmati sendu dan kerinduan yang datang menyentuh hati tanpa jeda bersama belaian angin malam yang memintaku untuk menari mesra bersamanya.

Yah.. memang hanya pada penggal-penggal malamku yang sunyi kukadukan tentang kisah dan perjalanan tentang Suatu masa yang pada akhirnya telah menjadi tak sempurna, tentang masa yang tak lagi bisa menjadi bagian didalamnya.

Penggal Malam  yang selalu saja menyeret hatiku ke lembah kerinduan tak bertuan, hingga tiba-tiba sudah kudapati diriku duduk bersimpuh di latar istana dengan tatapan hasrat yang tajam membuncah seirama ingatan akan dirimu memelukku penuh pesona yg mendalam.


Sampai kapankah penggal malamku terbelenggu Dalam kekangan rasa sedih yang mendekap sesak oleh kerinduan yang tak lagi seharusnya, kerinduan yang seharusnya tak lagi boleh merayapi hati ini.

Malam... Biarkan aku memelukmu hingga engkau beranjak pagi dan biarkan Kujalani kekasih di jalan setapak hatimu bersama hasratku yang bagai sungai sepanjang pengembaraan berliku mengalir bersama arus kerinduan dan doa sampai muara laut atas namamu bahagia aku di keluasan cintamu. lalu biarkan aku merasa bahagia dalam sajak yang kubacakan berkali-kali dan biarkan menjadi prasasti yang terpahat abadi.

Malam... Biarkan semuanya itu masih absurd, karena Masih butuh banyak hal untuk sebuah keyakinan, karna ada ribuan kebenaran dan ribuan kebohongan yang selalu hadir menyertai hidup ini yang harus bisa memaknai semua itu hingga ku mengerti hitam dan mengerti putih, hingga ku bisa menjadi hitam dan menjadi putih.
Rekomendasi Untuk Anda × +