Senin, Oktober 15, 2018

Petani Sekarang Jangan Bercoocok Tanam

Baca Juga

POTRET PERTANIAN - Selamat malam sahabat Potret pertanian dimanapun berada, dibelahan bumi Nusantara Indonesia, Bagaimana saat ini pertanian didaerah tempat sahabat Potret Bercocok Tanam, Semoga saja hasil dari bercocok tanam mendapatkan hasil yang melimpah serta didukung dngan harga yang tidak relatif murah.

Ahir-ahir ini harga komoditas pertanian banyak mengalami penurunan harga dan tidak sedikit mengalami kerugian bagi sahabat pelaku pertanian, Yang dekat saja di daerah solok alahan panajng kecamatan lembah gumanti, Petani bawang asal daerah tersebut banyak mengaklami kerugian yang diakibatkan harga jual bawang merah sampai dibawah Rp. 10.000,-.

Sebagai petani tentu kita juga tidak boleh tutup mata atas prestasi kementerian pertanian yang juga berhasil meng Expor bawang dari berbagai daerah beberapa waktu, tak hanya itu jenis buah-buahan juga berhasil masuk kepasar internasional, seperti mangga, Manggis dan juga jagung.

Prestasi kementerian pertanian ahir-ahir ini banyak dielu-elukan berhasil dalam setiap program-program yang diterapkan di berbagai daerah sentra pertanian, seperti menghadapi musim kemarau saa seperti sekarang ini dipulau jawa, bahwa petani diderah sentra pertanian yang biasanya tidak dapat melakukan budidaya,saat ini sudah bisa melakukan budidaya meskipun pada musim kemarau , hal tersebut ditengaraiprogram pembangunan embung dimasing-masing sentra pertanian dinilai berhasil.

Ditengah keberhasilan berbagai program kementerian pertanian, sperti penanaman bawang disejumlah daerah yang diprogramkan dengan kesiapan yang menurut saya kurang tepat, sepertikasus yang terjadi dikabupaten solok, melimpahnya hasil panen bawang didaerah tersebut ditingarai program kementerian pertanian yang menjadikan daerah tersebut sebagai tulang punggung bawang dipulau sumatera, sehingga petani berlomba-lomba menanam bawang.

Para petani bawang merah di Desa Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, kian frustrasi karena harga bawang merah tak kunjung naik sejak seminggu terakhir. Hari ini, mereka jual bawang merah dengan harga Rp 7.000-8.000 per kg.
 
Harga tersebut sangat rendah dan tak mampu menutupi biaya pokok produksi (BPP) alias ongkos tanam. Hitungan ideal, harga bawang merah harusnya di kisaran Rp 15.000 per kg. 

Tak hanya didaerah solok sumatera barat, kasus yang sama juga terjadi diberbgai daerah di sentral pertanian di Indonesia.

Terkait permasalahan tersebut tasedikit  Netizen yang membuat stetmen tentang arah kebijkan pemerintan yang berujung merugikan petani, Ada salah satu seorang netizen yang mengatakan agak sedikit nyeleneh disalah satu media sosial terbesar.

"SAUDARAKU KAUM PETANI, JANGAN HANYA BISA BERCOCOK TANAM, TAPI APA YANG COCOK DITANAM, SUPAYA TERHINDAR DARI KEBIJAKAN ANUNE"

Hal tersebut tentu mendapat tanggapan dari netizen lainya.
" A*****d Banyak yg cocok mas.cuman.....endingnya.yg tdk cocok.." jawaban dari salah satu netizen.

Dari status tersebut mengundang rasa penasaran Penulis untuk sedikit membahas,kenapa Netizen mengatakan jangan Hanya Bercocok tanam tapi apa yang cocok ditanam guna menghindari sebuah kebijakan si anu.

Menurut analisa saya Netizen menyampaikan bahwa saat ini petani jangan hanya bercocok tanam atau membudidayakan tanaman saja, tapi petani harus mua;ai berfikir bagaimana caranya memilih komoditas untuk dibudidayakan dengan mempertimbangkan hal-hal, seperti apa yang sedang digandrungi kebanyakan  petani tanam pada saat akan bercocok tanam.

Seperti kasus diatas, seperti kementerian pertanian sedang mellakukan program penananam bawang secara serentak disejumlah daerah sentral pertanian, sudah bisa dipastikan dengan banyaknya yang ikut menanam bawang akan terjadi panen raya yang akan menyababkan banjirnya bawang yang akan sangat berpengaruh pada hasil penjualanya.

Petani harus lebih pandai menyikapi keadaan sehingga akan terhindar dari kasus-kasus seperti diatas, misalkan sekarang lagi banyak orang bercocok tanam bawang, barangkali petani lainya bisa menanam tanaman lainya, seperti cabe, Kubis atau tomat sehingga tidak akan berbenturan ketika sedang panen raya.

Seperti balasan komentar yang ada dalam status tersebut, yang mangatakan sebenarnya kebijkan dan program pemerintah sudah cocok dilakukan, akan tetapi Ending dari program tersebut belum cocok.

Terkait permasalahan diatas tentu pemerintah dalam melaksanakan program harus benar-benar melakukan nya dengan serius dan tepat, dengan memikirkan aspek yanga akan terjadi jika hasilpanen mmelimpah ditingkatpetani.

MIsalkan Sebelum malakukan Program penanaman bawang pemerintah harus memikirkan, jika terjadi penumpukan hasil panen, apa yang harus dilakukan pemerintah dengan cepat mengambil tindakan sehingga tidak akan merugikan petani.

Pemerintah jangan hanya bisa membuat dan malaksanakan program, tapi pemerintah juga harus mempersiapkan planing-planing lain jika terjadi penumpukan hasil panen, misalkan sebelum melakukan program penanaman pemerintah sudah menyiapkan dimana akan di jual atau diexpor.(Pras)

Rekomendasi Untuk Anda × +